Kopi Liberika Meranti Laris Manis

oleh
Tim Dispar Riau saat meracik kopi liberika merati di stan Pameran produk unggulan perdagangan, pariwisata dan investasi 2018
Jasa Website murah

Saturealita.com Yogyakarta-Sejak hari pertama stan Pameran produk unggulan perdagangan, pariwisata dan investasi 2018 Dinas Pariwisata (Dispar) Provinsi Riau dibuka untuk umum, kopi Leberika merati diserbu pengunjung.

Setiap pengunjung pameran yang melintas di stan Dispar Riau setiap harinya, pandangan selalu tertuju kebagian pembuatan atau pengelolaan kopi leberika meranti.

Rehabilitasi narkoba

“Memang sih, awalnya mereka bertanya dan sesekali mencoba kopi tersebut. Karena aroma dan rasanya yang unik, banyak yang berminat”, kata Achmad Danafia SP Kepala Seksi (Kasi) Ekonomi Kreatif Berbasis Seni dan DudayaKepala Seksi (Kasi) Dispar Riau, Sabtu (07/04/2018) melalui telepon selulernya.

Menurut sejarah, Varietas kopi jenis liberika yang ditanam para petani di Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau, berasal dari negeri jiran Malaysia.

Dalam cerita, tersebutlah tiga nama orang tertua diKepulauan Meranti yakni Yasin, Yusuf, dan Kadir membawa oleh-oleh karena baru pulang dari negeri jiran.

Seperti diketahui, jarak antara wilayah daratan Meranti dan Malaysia hanya dipisahkan oleh wilayah perairan di jalur pelayaran internasional Selat Malaka.

Jarak Selatpanjang sebagai ibu kota Kepulauan Meranti dengan Batu Pahat, wilayah distrik di negara bagian barat Johor, Malaysia cuma 94,90 kilometer.

lanjutnya, terdapat cerita lain terkait masuknya kopi liberika ke Meranti dibawa oleh seorang warga dari kunjungan ke wilayah Batu Pahat, Johor sekitar tahun 1942.

Adalah Saleh, warga Desa Kedabu Rapat di Kecamatan Rangsang Pesisir. Tanaman kopi di Malaysia telah membuatnya tertarik untuk menanam di Meranti.

Akhirnya orang ini pun, membawa enam benih kopi liberika untuk ditanam di kebunnya. Setelah tumbuh dan berkembang, terus ia budi dayakan.

Oleh petani kopi di Meranti mengaku, dikepulaun tersebut mayoritas varietas kopi ini tumbuh terkosentrasi seperti di Desa Bina Sempian, Kecamatan Rangsang Pesisir dan Desa Kedabu Rapat, Kecamatan Rangsang Barat.

Ia berkata, potensi kopi daerah itu lebih populer di negeri jiran karena tahun 1980-an mulai dipasarkan dengan kondisi permintaan terus meningkat setiap tahun.

Kini terdapat ratusan kepala keluarga di Bina Sempian, bergantung hidup dari kopi. Rata-rata mereka punya kebun kopi lebih dari satu hektare.

“Sekelumit cerita ini, juga menjadi bahan kita untuk promosi. Tentunya dengan harapan, melalui kegaiatan pameren dapat membuingkan kelebihan kopi liberika tersebut”,pungkasnya (***)

Print Friendly, PDF & Email