Suwardi MS, Tiada Masa Tampa Karya

oleh
Sedang ngetik materi buku yg akan ditulis
Jasa Website murah

SOSOK Pria boleh dikatakan tidak mudah lagi, kini sudah berusia 79 tahun lewat 3 bulan, sejak kecil hingga saat ini tidak ada kata berhenti untuk berkarya.

Pria tua tersebut bernama lengkap, Prof H Suwardi Muhamad Samin atau dikenal dengan panggilan Suwardi MS, dilahirkan pada tanggal 23 Juli 1939 didesa Sentajo Kabupaten Kuantan Singingi Provinsi Riau.

Rehabilitasi narkoba

Prof Suwardi, mempunyai satu istri bernama Hj Ruda Ani kelahiran pada tanggal 12 Desember 1939 desa Benai dan mempunyai 5 anak yakni, Ir Eni Sumiarsih M Sc Dosen Fakultas dan Kelautan Unri, Dewita Suryati Ningsih SE MBA Dosen Fakultas Ekonomi Unri, Trio Adiono ST MT P hD Dosen ITB Bandung, Wiwik Kodriati SE AK karyawan BOB PT BSP Jakarta serta, Suci Lusi Riani S Kg Dokter Gigi RSUD Petala Bumi Pekanbaru.

Sementara itu, Prof Suwardi MS telah mempunyai 10 cucu dengan pendidikan kuliah satu orang, SMP satu orang dan selebihnya TK dan SD.

Bersama keluarga besar

Untuk riwayat pendidikan sendiri, pada tahun 1954 Sekolah Rakyat, baru naik kelas lima selama 6 bulan ditahun yang sama langsung dipindahkan Sekolah Guru B. Lanjut 1960 Sekolah Guru A, 1963, FKIP Unpad Sejana Muda, 1966 dilanjukan IKIP Bandung.

Tidak sampai disitu saja, pada tahun 1976 mendapat pembiayaan dari pemerintah untuk melanjutkan kuliah keluar negeri yakni School of Education Macquary University Australi dan tahun 1980-1985 menjemput Master Trainer Moral Education Progam UNDP II dan Dirjen Dikti Depdikbud.

Dari sisi kehidupan, Prof Suwardi saat bincang-bincang dengan Situs Berita Online Saturealita.com Pekanbaru, Minggu (23/9/2018) pagi, mengatakan autobiography atau riwayat hidup, perjalanan hidup hingga usia 79 tahun, beliau memang tiada masa tanpa karya.

Bersama wakil Gubernur Riau dan beberapa toko masyarakat

“Bayak statik perjalanan hidup saya. Hal ini bisa dibaca dalam Autobiography Suwardi MS tiada masa tanpa berkarya perjalan hidup hingga usia 79 tahun saat ini”,jelasnya.

Mengenang masa kecil, memang diakui bukan terlahir dari anak kolong merat, melainkan seorang anak dari ayah guru ngaji dan petani.

Dulu semasa kecil, sang ayah mempunyai filosofi, satu anak lahir dia gali lubang, lalu ditanam pohon kelapa. Artinya pohon kelapa ini banyak mengandung makna luas, agar anaknya berguna bagi sendi kehidupan negara Republik Indonesia ini.

“Saya ingat sekali, itulah pelajaran yang selalu diberikan kepada anak-anaknya agar dalam menjalini kehidupan selalu menuai keberasilan”, paparnya.

Bersama dengan salah satu mahasiswa universitas terkemuka

Mengenal beberapa pengalaman, Prof Suwardi MS, pernah menjabat Dosen FKIP Unri sampai sekarang, Organisasi Kemasyarakatan sebagai Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) 2006-2010, Karya Ilmiah buku Raja Haji Marbum Telok Ketapung Melaka 1982-1983 proyek IDSN Ditjarahnitra Depdikbud Jakarta.

“Ini secara garis besar saja, namun banyak lagi, sebagaimana disebutkan diatas bisa dibaca secara lengkap di Autobiography”,ulasnya.

Kebiasaan prof Suwardi, memang tidak terlepas dari penganggan buku sebagai bahan pencelahan untuk reverensi kajian ilmiah yang dijadikan sebuah buku.

Pemberian gelar doktor

Baru-baru ini, ia telah memperjuangkan sebuah buku tentang perjuangan menjadikan pahlawan nasional asal kabupaten Kampar Mahmud Marzuki.

“Mudah-mudahan perjuangan ini mendapat hasil memuaskan dan sebelumnya sudah banyak yang diperjuangkan serta menjadi pahlawan nasional”, terangnya.

Bercerita mengenai romatika keluarga, terdapat pada masa sulit diawal pernikahannya dengan Ruda Ani binti Thaha dari Benai tanggal 8 Agustus 1960 yang disebut pernikahan, gantung.

Pada masa dahulu, yang namanya pernikahan selalu dilakukan kenduri atau doa selamat, sekarang ini dikemas dalam pesta pernikahan atau perkawinan.

Kegiatan kepramukaan

“Kalau saya menikah tanpa ada kenduri, disebabkan sang istri bertugas ditaluk kuantan sebagai guru pembantu pada SKP dengan status sekolah rakyat. Sedangkan diri sendiri masih berstatus mahasiswa di Fakultas Keguruan dalam ilmu pendidikan Universitas Padjajaran Unpad, harus pulang balik. Melihat kondisi seperti ini, menyebabkan terganggunya kesehatan dan oleh dokter diminta istirahat selama tiga bulan. Nah disitulah dimanfaatkan untuk melangsungkan pernikahan “, tutupnya sembari berpesan kepada seluruh generasi mudah, bahwa jangan putus asa dalam menjalani kehidupan ini (***).

Print Friendly, PDF & Email