Dra Bedriati : Khusus Para Guru, Jadikan Riset Sejarah Lokal Masuk Dalam Pelajaran

oleh
Foto bersama usai pembukaan seminar nasional 2019

PEKANBARU Saturealita.com- Seminar Nasional Pendidikan Sejarah 2019 dengan tema, “Pembelajaran Sejarah Berbasis Riset Sejarah Lokal Dalam Membangun Generasi Z”, resmi digelar, Senin pagi (28/10/2019) bertempat salah satu hotel Pekanbaru.

Dalam seminar tersebut dihadiri, Sekretaris daerah provinsi (Sekdaprov) Riau H Ahmad Syaah Harrifie SH MH diwakili Kepala Dinas Kebudayaan (Kadisbud) Riau Raja Yoserizal Zen, Wakil Dekan I Prof Dr Jimmi Cokpriadi MSi, Ketua Prodi Pendidikan Sejarah Universitas Riau (Undri) Dra Bedriati Ibrahim MSi dan tiga Profesor sebagai pembicara utama, Prof Suwardi MS Sejarahwan, Prof Dr Isjoni MSi Guru Besar Pendidikan Sejarah Undri dan Dr Ellya Roza M Hum Ahli Sejarah dan Naskah Melayu UIN Syarif Kasim Riau.

Menurut Ketua Prodi Pendidikan Sejarah Universitas Riau (Undri) Dra Bedriati Ibrahim MSi dalam kata sambutannya, bahwa mungkin beberapa orang masih terasa asing dengan kata istilah generasi “Z”.

Dalam dekade terakhir generasi “Z” terus diteliti mulai dari preferensi politik, ekonomi, hingga gaya hidupnya.

“Jadi secara teori sosiologi membagi manusia menjadi sejumlah generasi meliput, era depresi, perang dunia II, baby boomer I, II, X, Y (Milenial) lalu Z dengan berdasarkan rentang tahun kelahiran”, katanya.

Kemudian, pada tahun 2012 ketika jurnalis Bruce Horovitz mengenalkan generasi Z dan diviralkan oleh Sparks and Honey pada tahun 2014.

Selanjutnya, Badan statistik Kanada menghitung generasi “Z” mulai dari anak yang lahir 1993 sampai 2011. McCrindle Research Center di Australia menyebut generasi “Z” sebagai orang-orang yang lahir pada 1995 sampai 2009.

“Sedangkan di Indonesia sendiri, Generasi “Z” pertama adalah mereka yang lahir pada tahu 1995, artinya orang yang paling tua dari generasi “Z” berusia 21 tahun, dimana sudah beranjak dewasa, bisa ikut pemilu, mencari tau sudah punya kerja dan hal-hal lain yang bisa mempengaruhi ekonomi, politik serta kehidupan sosial dunia kini”, ucapnya.

Lebih luas lagi, Dra Bedriati mengungkapkan sejauh ini, generasi “Z” dikenal sebagai karakter yang lebih tidak fokus dari milenial, akan terapi lebih serba bisa individual, global, berfikir terbuka, cepat terjun ke dunia kerjs, wirausahawan dan tentu saja lebih ramah teknologi.

Namun, dengan segala perkembangan generasi “Z” tersebut tentu ada dampak positif dan negatifnya.

“Disinilah menurut kami, perlu peningkatan peran pendidikan di sekolah terutama dalam pelajaran sejarah untuk memberikan arahan dan tujuan yang positif kepada peserta didik menghadap era generasi “Z””, terangnya.

Terkait dengan fokus dalam seminar ini adalah bagaimana mengitegrasikan riset sejarah lokal dalam mempelajari sejarah untuk membangun generasi “Z”.

“Harapan Kami, dengan adanya kegiatan seminar ini, para pendidik khususnya guru sejarah lebih mengedepankan pengunaan hasil riset sejarah lokal kedalam pembelajaran sejarah dan bagaimana nilai-nilai yang terkandung dalan materi sejarah lokal tersebut dapat memperkuat jati diri perserta didik sebagai bahian dari karakter asli bangsa Indonesia. Kemajuan teknologi harus kita kuasai dan bukan sebaliknya”, paparnya.

Disamping itu, Wakil Dekan I Prof Dr Jimmi Cokpriadi MSi, lebih menekan kepada kegiatan seminar ini, jangan hanya sebatas seremonial saja, tapi mampu mengaplikasikan riset sejarah lokal menjadi wadah yang bermanfaat bagi kehidupan berbangsa.

“Saya menghapkan, kegiatan ini bukan sekedar input tapi mampu menjadi output”, pungkasnya. (***)

Print Friendly, PDF & Email