Selamatkan dan Pulihkan Hutan Alam di Hari Lingkungan Hidup Sedunia

oleh

PEKANBARU, Saturealita.com– Jikalahari menerbitkan brief New Normal, Selamatkan dan Pulihkan Hutan Alam di hari lingkungan hidup sedunia 5 Juni 2020.

“New Normal tak sebatas cuci tangan setelah beraktivitas, jaga jarak yang aman dan pakai masker tapi pemulihan lingkungan hidup untuk mengembalikan virus zoonosis ke habitatnya,” kata Made Ali, Koordinator Jikalahari, Jumat, (5/6/2020) siang melalui WhatsAppnya.

Jelang tiga bulan Indonesia dihantam Covid-19, Presiden Jokowi tetiba mengumumkan istilah New Normal. Presiden Jokowi mengatakan, PSBB tidak dicabut, tapi kita harus memiliki sebuah tatanan kehidupan baru (New Normal) untuk bisa berdampingan dengan Covid-19. Artinya, kehidupan berjalan, tapi kita juga harus bisa menghindarkan diri dari Covid-19, dengan cara cuci tangan setelah beraktivitas, jaga jarak aman dan pakai masker.

Sepanjang Maret sampai Juni total masyarakat Indonesia terpapar Covid-1 mencapai 48.358 orang dalam pemantauan, 26.940 orang positif, 13.120 pasien dalam pengawasan, 7.637 orang sembuh dan 1.641 orang meninggal.

Di Riau terdapat 6.205 orang dalam pemantauan, 117 orang positif, 87 orang pasien dalam pengawasan, 89 orang sembuh dan 6 orang meninggal.
New Normal yang didengungkan oleh presiden Jokowi mengisyaratkan agar masyarakat “berdamai” dan dapat “berdampingan” dengan Covid-19 dengan menjaga jarak, sering mencuci tangan dan menggunakan masker bukan solusi yang sebenarnya. “New Normal seperti itu tidak akan menyelesaikan secara permanen bagi penanggulangan COVID-19, jika pemulihan ekologis tidak
dilakukan,” tegas Made Ali.

Sebuah riset yang dipublikasi di jurnal Proceedings of Royal Society menyebut aktivitas manusia berupa perburuan ilegal (eksploitasi) satwa liar dan perusakan habitat alami (keanekaragaman hayati) adalah faktor yang mendasari berlimpahnya penyakit menular atau zoonosis.

Zoonosis merupakan wabah yang disebabkan oleh penularan virus hewan liar ke manusia. Studi ini menemukan, 70 persen penyakit manusia adalah zoonosis seperti wabah virus corona alias Covid-19, 140 virus telah ditularkan dari hewan ke manusia dan hewan tersebut masuk dalam daftar Merah Spesies terancam punah IUCN.

“Para pembuat kebijakan harus fokus dan siap siaga mencegah risiko penyakit zoonosis, terutama mengembangkan kebijakan terkait lingkungan, pengelolaan lahan dan sumber daya hutan,” papar Made Ali mengutip pernyataan Christine Johnson, peneliti utama dalam studi ini.

Sedangkan menurut Farida Camallia, penasihat teknis dari Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) ada tiga faktor yang memengaruhi persebaran zoonosis dari satwa liar. Pertama, keanekaragaman mikroba satwa liar dalam suatu wilayah tertentu; kedua, perubahan lingkungan; dan ketiga, frekuensi interaksi antara hewan dan manusia.

Jika salah satu faktor ini terganggu, dipastikan zoonosis pun menyebar di tengah Pandemi Covid-19 pengrusakan hutan alam oleh korporasi, karhutla, konflik satwa, kriminalisasi terhadap masyarakat adat dan pembunuhan terhadap flora fauna serta praktik greenwashing masih dilakukan di Riau.

“Di tengah pandemi saja faktor-faktor penyebab penyebaran penyakit zoonosis masih dilakukan di Riau,” tutup Made Ali

Dampak lainnya, karhutla di konsesi korporasi juga terus terjadi setiap tahun yang menyebabkan pencemaran udara akibat kabut asap. Peristiwa kabut asap nyaris berulang sejak 1997 hingga kini.

Jutaan orang menderita ISPA dan puluhan meninggal dunia. Pada 2015 saja, BNPB menyebutkan 43 juta orang terkena dampak kabut asap dan 500.000 orang mengalami infeksi pernafasan serius dan 19 orang meninggal dunia.

Bahkan hasil penelitian Harvard University, menyebutkan 100.000 jiwa
mengalami kematian prematur akibat asap karhutla 2015 dan 90% berada di Indonesia. Hanya ada satu cara New Normal untuk menghentikan penyebaran virus zoonosis yaitu dengan menghentikan kerusakan hutan alam, memulihkan dan mengembalikan fungsi hutan sebagai habitat satwa serta memelihara keanekaragaman hayati.

“Ringkasnya kembalikan virus zoonosis ke habitat asalnya sehingga, bukan hanya menanggulangi, pemerintah juga mencegah penularan penyakit zoonosis lainnya di waktu yang akan datang”. (***/rilis)

Print Friendly, PDF & Email