Giliran PA 212 Turun Ke Jalan Tolak UU Omnibus Law Di Depan Istana

oleh
Ribuan orang melakukan "long march" menuju Monas untuk mengikuti aksi 212 atau 2 Desember di Jalan MH Thamrin, Jakarta, Jumat (2/12). Aksi tersebut untuk mendesak pihak terkait agar segera menuntaskan kasus dugaan penistaan agama. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/aww/16.

JAKARTA, Saturealita.com,–Aksi penolakan terhadap disahkannya Undang-undang Cipta Kerja masih terus berlanjut.

Gabungan aliansi dari berbagai ormas Islam akan turun ke jalan diberbaga wilayah di Indonesia hari ini Selasa 13 Oktober, untuk memprotes terkait pengasahan Undang-undang Cipta Kerja.

Aksi Demonstarsi ini dimotori oleh Ormas Front Pembela Islam, Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama, PA 212 dan beberapa Ormas lainnya.

Gabungan dari berbagai aliansi ini menamakan diri sebagai Aliansi Nasional Anti Komunis (ANAK NKRI).
Sementara, di Jakarta, aksi akan dipusatkan di Istana Negara mulai pukul 13.00.
Selain itu, FPI, GNPF Ulama, PA 212 dan HRS Center juga mengajak semua elemen bangsa untuk bangkit berjuang dan menghentikan kezdaliman dengan segala daya upaya yang dimiliki.

Seperti halnya demonstrasi sebelumnya yang dilakukan oleh mahasiswa dan buruh, aksi gabungan ormas ini akan digelar di depan Istana Merdeka, Jakarta.
Pihak Polda Metro Jaya dan Dinas Perhubungan DKI Jakarta melakukan pengalihan arus lalu lintas di kawasan Istana Merdeka yang akan dijadikan lokasi demo Omnibus Law UU Cipta Kerja.

Wakil Sekertaris Jenderal Persaudaraan Alumni 212 Novel Bamukmin membenarkan bahwa pihaknya akan terlibat dalam aksi demonstrasi penolakan omnibus law Undang-Undang Cipta Kerja di silang Monas, Selasa (13/10/2020).
Saat dikonfirmasi, Novel mengatakan bahwa aksi tersebut akan digelar oleh sekelompok massa yang terdiri dari beberapa kelompok ormas. “Ini bagian dari PA 212 juga,” ucap dia saat dikonfirmasi, Selasa (13/10/2020).

“Aksi ini kan serentak di berbagai daerah, jadi untuk jumlah massa tergantung kondisi daerah masing-masing,” ucap dia. Novel menambahkan, aksi penolakan omnibus law bukan kali ini saja dilakukan oleh pihaknya. Jauh sebelum buruh menggelar aksi terkait UU Cipta Kerja, pihaknya mengeklaim sudah melakukan penolakan sedari awal. Dia berharap aksi hari ini bisa berjalan dengan baik dan pemerintah dapat mempertimbangkan untuk mencabut omnibus law UU Cipta Kerja yang dianggap menyengsarakan buruh. “Kami akan terus aksi sampai tuntutan kami dikabulkan,” tutup dia.

Rencana semula aksi ini digelar di seberang Istana Kepresidenanan, Jalan Medan Merdeka Utara mulai pukul 13.00 WIB. Namun, jalannya aksi tidak memungkinkan karena petugas menyekat akses menuju istana. Alhasil massa pun diadang untuk hanya berdemonstrasi di titik Patung Arjuna Wiwaha atau Patung Kuda.
“Opsi alternatif aksi akan digelar di sekitaran patung kuda, karena istana sudah diblokade,” kata Wakil Sekretaris Jenderal PA 212 Novel Bamukmin, Selasa (13/10).

Lebih lanjut, nantinya mereka bakal membawa sejumlah tuntutan, yakni selamatkan NKRI dan kaum buruh, tolak RUU HIP/BPIP, dan bubarkan BPIP. Novel menyebut aksi ini merupakan serangkaian aksi lanjutan dari pihaknya yang menolak RUU HIP.

Secara teknis, Novel pun mengimbau agar peserta aksi demonstrasi taat terhadap protokol kesehatan covid-19 seperti memakai masker, dan melarang peserta membawa anak kecil untuk turun aksi ke jalan.

“Diimbau bawa bendera merah putih, taat komando pimpinan, tidak membawa atau melibatkan anak-anak, dan jangan terprovokasi selama aksi berjalan,” kata Novel.

Sebelumnya, Komandan Lapangan aksi 1310 Tolak Omnibus Law, Abdul Qadir mengatakan pihaknya sudah menyerahkan surat pemberitahuan aksi hari ini. Surat itu telah diserahkan oleh Koordinator Lapangan aksi Damai Hari Lubis sejak Jumat (9/10) lalu.
Selain itu, Qadir menyebut pihaknya juga telah menjalin komunikasi dengan Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) pimpinan Din Syamsuddin untuk bergabung dalam aksi tersebut. Kendati demikian, ia belum bisa memastikan apakah KAMI juga akan bergabung dalam aksi tersebut. (Md)

Print Friendly, PDF & Email