Riau Rhythm in Orchestra: Awang Menunggang Gelombang Kisah Petualangan Budak Zamatera Mengelilingi Bumi

oleh
Jasa Website murah

PEKANBARU, Saturealita.com- Sembilan karya musik terbaru Riau Rhythm Chambers Indonesia (RRCI) yang disuguhkan di depan audiens, Jumat, (30/10/2020) dan Sabtu, (31/10/2020) mendapatkan apresiasi tinggi. Dua malam itu, Anjung Seni Idrus Tintin terasa gegap-gempita oleh alunan orkestarsi dan variasi bebunyian.

Konser bertajuk “Riau Rhythm in Orchestra” itu menjadi penanda bahwa hubungan emosional antara seniman dan penikmatnya tak pernah putus. Meski dihantam badai Pandemi (Covid-19), nyaris sepanjang tahun ini. Sebanyak 400 tempat duduk dengan standar kesehatan ala covid terpenuhi. Bahkan tak sedikit pula penonton yang kecewa dan harus pulang karena tak kebagian tiket masuk.

Rehabilitasi narkoba

Komposer RRCI Rino Dezapaty MBy bersama puluhan musisi orkestra memanjakan mata, telinga, dan imajinasi para audiens yang hadir. Konser yang berlangsung kuranglebih dua jam itu dibuka dengan karya pamungkas dari album sebelumnya, “Sound of Svardvipa” dan karya orkestra Potpourri sebagai prelude konser, “Riau Rhythm in Orchestra”. Karya ini menjadi bunga rampai dari sembilan nomor karya terbaru RRCI yang orkestrasinya dikerjakan Nurkholis SSn MSn (komponis dan juga akademikus musik ISI Padang Panjang).

Sembilan repertoar dari album terbaru yang mereka suguhkan antara lain: Songka Bala, Mystical Zamatera, Kembara Suara, Telipuk Layu, Pak Yong Muda, Kala Kiwi, Mappalece Bombang dan Awang Menunggang Gelombang.

Masing-masing karya, berkisah tentang pengembaraan seorang budak Melayu 500 tahun yang lalu. Budak Zamatera, seorang navigator handal dalam ekspedisi kapal Ferdinand Magellan dari Spanyol Selatan menuju Kepulauan Nusantara.

Sang Komposer Rino Dezapaty Mby dan seluruh awak RRCI serta puluhan musisi orkestra benar-benar menunjukkan kelasnya mengolah ragam bebunyian menjadi karya musik yang harmoni. Setiap karya seperti rute dari jalur pelayaran sejak hulu menuju samudera luas. Dimulai dari keheningan Bukitbarisan menuju Selat Malaka yang gegap gempita di masanya.

“Pelayaran dan spirit besar Panglimo Awang mengelilingi bumi secara sempurna kami dapatkan dari berbagai catatan atau kronik sejarah masa lampau. Salah satunya, catatan juru tulis ekspedisi Magellan Antonio Pigafetta yang menggambarkan kehidupan Budak Zamatera tersebut,” ulas Rino Dezapaty usai konser.

Rino menjelaskan bahwa spirit pengembaraan Enrique de Malacca mengarungi lautan dan gelombang diakui dunia. Bahkan tokoh ini lebih populer di Eropa dan dunia barat. Sedangkan di sini, Indonesia, sosoknya masih ‘sayup-sayup sampai’. Itulah yang mendasari dirinya untuk menggali lebih jauh dan memberi tafsir bebas lewat karya musik. Riset dan pengembaraan penciptaan album itu sudah dimulai sejak 2018 silam dengan melakukan diskusi intens bersama Budayawan Riau Al azhar.

“Lewat karya Awang Menunggang Gelombang kami ingin menyampaikan pesan dari Enrique de Malacca bahwa generasi muda hari ni jangan hanya sekadar menunggang gelombang, melainkan menciptakan gelombang agar tak digulung gelombang,” ujarnya berfilosofi.

Panglimo Awang alias Enrique de Malacca, sosok besar dan populer 500 tahun silam ini adalah pemuda Nusantara, asli Budak Zamatera yang mencuri perhatian dunia lewat ketangguhannya sebagai pelaut ulung.

“Jika 5 abad lalu seorang pemuda bangsa ini mampu menorehkan jasa besar bagi bangsa, kenapa generasi hari ini tidak mengikuti jejak beliau lewat karya-karya terbaik kita. Bahkan jika bisa harus melampaui prestasinya,” kata Rino mengakhiri.(***)

Print Friendly, PDF & Email