Malam Ini, Iwan Irawan Suguhkan “Nyanyian Hutan”

oleh
Aksi Nyanyian Hutan
Jasa Website murah

PEKANBARU, Saturealita.com-Malam ini, Sabtu (7/11/2020) pukul 19.30 WIB, SPN Iwan Irawan Permadi menyuguhkan karya eksplorasi-inovasi berjudul, “Nyanyian Hutan”. Karya yang menyimbolkan kepiluan sekaligus ketidakputusaan masyarakat Suku Sakai atas fenomena yang menimpa mereka, dimainkan di panggung Anjung Seni Idrus Tintin.

Hal ini diungkapkan Iwan Irawan Permadi usai menggelar gladi resik pada Jumat (6/11/2020) malam. Dikatakannya, secara emosi, karya ini didedikasikan untuk masyarakat Sakai yang belum juga lepas dari belenggu kepiluan. Akibat semua kekayaan mereka atas buruknya perlakuan banyak pihak, terutama pemerintah dan pengusaha yang mengelola hutan Sakai secara serampangan. Selain itu, karya ini juga untuk perenungan bagi semua orang, termasuk “kita” yang hanya pasrah dan tidak melakukan apa pun untuk menyelamatkan kekayaan budaya yang sudah tergadai berbilang abad.

Rehabilitasi narkoba

“Ya, Sabtu (7/11/2020) malam, kami akan tampil di gedung ini dengan melakukan standar protokol kesehatan Covid-19. Sudah banyak yang mendaftar untuk menonton dan kami harap mereka (penonton) harus mematuhi aturan tersebut,” papar Bang Iwan, sapaan akrabnya.

Lebih jauh dikatakannya, “Nyanyian Hutan” merupakan hasil dari proses kreatif atas keresahannya sejak 1994 silam. Karya ini terus diproduksi dan diolah di dapur kreatif PLT Laksemana. Awalnya, karya ini diberi judul “Tidur di Bukit Tadah Angin” lalu terus mengalami perkembangan menjadi “Olang Kesumbo” dan “Kepak-kepak Sayap”. Proses yang terus bergerak itu, hingga 2018 sampai sekarang menjadi “Nyanyian Hutan”.

“Ini karya berangkat dari kerja riset bertahun-tahun dan terus mengalami perkembangan setiap waktu. Intinya, karya yang berangkat dari proses riset cukup menantang dan menyenangkan,” tambahnya.

“Nyanyian Hutan” sendiri, berangkat atas persoalan fenomena di Riau, bahwa hutan-hutan di Riau seiring waktu berubah menjadi daerah industri dan usaha dari sebagian kelompok orang. Hutan-hutan telah berubah menjadi perkebunan kelapa sawit, akasia, ladang minyak, dan lainnya. Penebangan pohon dan eksplorasi yang berlebihan membuat keberlangsungan Masyarakat Adat Sakai terancam dari tanah leluhurnya dan tersingkir.

Tapi masyarakat adat Sakai berani mempertaruhkan kebebasan gerak geliat tubuhnya untuk berbuat yang semestinya. Sementara kita masih ragu, menyerah, atau cari aman dengan bermain gelombang.
Tak ada lagi pohon – pohon kami
Tak ada lagi laman bermain kami
Dimana tanah kami…
Dimana hutan kami…

“Gerak serta musik bersumber dari motif gerak tari Olang-olang (tari tradisional Sakai) dan silat serta nyanyi panjang dan mantra orang Sakai,” aku Bang Iwan.(***/rl)

Print Friendly, PDF & Email