MA Anulir Vonis Hukuman Mati Mahasiswa Riau yang Bawa 20 KG Sabu Menjadi 15 Tahun Penjara

oleh

MEDAN, Saturealita.com–Mahkamah Agung (MA) menganulir vonis mati yang dijatuhkan Pengadilan Tinggi (PT) Medan terhadap Iin Fauza (34), mahasiswa Universitas Riau, yang terbukti membawa 20 Kilogram sabu-sabu di Medan. Hukumannya diperingan menjadi 15 tahun penjara. Oknum mahasiswa Riau semester VI Fakultas Pertanian Universitas Riau, Iin Fauza (34) terdakwa kurir narkoba yang membawa sabu 20 kg dari Riau ke Kota Medan.

Putusan ini mengubah vonis Pengadilan Tinggi (PT) Medan yang sebelumnya menjatuhkan hukuman mati terhadap warga Jalan Komplek Mutiara Permai, Kelurahan Tuah Karya, Kecamatan Tampan, Kota Pekanbaru, Provinsi Riau itu. Hal itu dibenarkan kuasa hukum Iin Fauza, Syarifahta Sembiring SH didampingi Sri Wahyuni SH dari LBH Menara Keadilan, Sabtu (14/11/2020)

“Benar. Namun kami belum menerima salinan putusan, baru pemberitahuan dua hari yang lalu, bahwa klien kami Iin Fauza divonis 15 tahun penjara denda Rp 1 miliar subsider 3 bulan penjara oleh MA,” kata Syarifahta.

Sebelumnya diketahui kasus berawal pada 12 Oktober 2018, dimana petugas kepolisian Ditresnarkoba Polda Sumut mendapatkan informasi bahwa akan ada kurir sabu yang berangkat dari Riau menuju Medan.

Keesokan harinya, polisi melakukan pemantauan terhadap mobil Daihatsu Xenia berwarna abu-abu metalik dengan No Polisi BM 1595 QS yang akan melintas menuju Medan melalui pintu gerbang tol. Setelah sampai di pintu gerbang tol Amplas, polisi melihat mobil tersebut sedang berada di pintu keluar gerbang tol hendak membayar tol dan saat itu juga polisi segera menghentikan mobil yang dikendarai dan mengamankan Fauza dan Irfan Fadli, sedangkan rekannya bernama Chandra berhasil melarikan diri. Selanjutnya polisi melakukan pemeriksaan dan ditemukan barang bukti berupa 2 tas yang berisikan sabu seberat 20 kilogram.

Sebelumnya, Iin Fauza dan rekannya Irfan Fadli (36) dijatuhi hukuman mati oleh majelis hakim Pengadilan Tinggi Medan. Dia terbukti bersalah melakukan perbuatan yang diatur dan diancam dengan Pasal 114 ayat (2) jo Pasal 132 ayat (1) Undang-undang Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika. Mereka telah melakukan permufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana melakuakn transaksi narkotikaa jenis sabu.

Di pengadilan tingkat pertama, majelis hakim PN Medan, menghukum Iin dan Irfan dengan pidana penjara seumur hidup. Hukuman itu sama dengan tuntutan JPU Belman Tindaon. Kedua terdakwa menempuh upaya banding.
Di tingkat banding, keduanya justru dijatuhi pidana mati pada Selasa 23 Juli 2019.

“Atas putusan itu kami tak terima, lalu kami mendampingi Iin Fauza mengajukan kasasi,” ujar Syarifahta.

Mereka menilai hukuman itu sangatlah tinggi. Salah satu alasannya, Iin Fauza hanya sopir yang disuruh membawa sabu, bukan sebagai bandar atau pemilik sabu. (Md)

Print Friendly, PDF & Email