Ekspedisi Pemetaan Gua, Mapala Sakai Siap Melestarikannya

oleh
Aksi Pemetaan Gua yang dilakukan Mapala UNRI 13-15 November 2020
Jasa Website murah

PEKANBARU, Saturealita.Com- Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) Sakai Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Riau (UNRI) kembali mengadakan ekspedisi pemetaan gua di Desa Tandun, Kecamatan Tandun, Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), Provinsi Riau.

Sebelumnya juga telah berhasil melaksanakan ekspedisi pemetaan di Gua Langkuik Tujuoh Desa Tanjung Kecamatan Koto Kampar Hulu, Kabupaten Kampar, Riau.

Rehabilitasi narkoba

Pada ekspedisi tersebut telah menghasilkan Peta Gua pertama di Riau, pemetaan Mapala Sakai bersama Kommapala Winnetou FT UNRI, sekaligus merayakan HUT RI ke-75 dengan melakukan pengibaran bendera merah putih dalam Gua Langkuik Tujuoh tersebut.

Kronoligis pemetaan kedua, berawal pada hari Jumat, 13 November 2020, Mapala Sakai berangkat bersama tim terdiri dari 6 orang yakni, Erik sebagai Leader, Ika Notulen, Fidelis Shutter, Risda Pointer, Ryan Deskriptor dan Intan Dokumentasi.

Bergerak dari Pekanbaru tim ekspedisi menghabiskan waktu selama kurang lebih 4 jam untuk sampai di Desa Tandun, setibanya disana tim pun langsung disambut oleh Komunitas Penggiat Alam setempat yang disingkat KOPI MALAM.

Sekilas tentang Kopi Malam merupakan komunitas yang peduli terhadap kelestarian alam khususnya di Desa Tandun itu sendiri. Mengingat kondisi Desa Tandun yang sebelumnya memiliki kawasan hutan lebat kini telah berubah menjadi perkebunan kelapa sawit. Untuk itu Kopi Malam ini bermaksud untuk menjaga kelestarian dan kelestarian desa mereka sendiri. Tentu saja tujuan Kopi Malam sejalan dengan Mapala Sakai yang tidak hanya mengeksplor dan melakukan pemetaan gua disana, tetapi juga untuk mengupayakan konservasi pada kawasan karst di Desa Tandun tersebut.

Setelah berbincang dengan Kopi Malam, tim kembali melanjutkan perjalanan menuju loksai gua yang menghabiskan waktu kurang lebih 1 jam, dan sesampainya disana tim langsung beristirahat.

Tim Kembali melanjutkan aktivitas pada Sabtu 14 November 2020, dimana tim langsung masuk ke gua dan melakukan pemetaan. Pemetaan dimulai dari mengukur mulut gua dengan pita ukur, menembak kompas untuk mendapatkan sudut, dan mengukur ketinggian atap menggunakan klinometer.

Dari pengukuran, terdapat aliran air tepat di mulut gua. Di dalam gua ada beberapa lorong dan juga terdapat ruangan besar (chamber). Gua ini masih terbilang alami karena masih banyak kelelawar dan aroma khas goano-nya yang masih tercium. Goano merupakan pupuk yang berasal dari kotoran kelelawar. Setelah selesai melakukan pemetaan pada gua yang pertama tim langsung Kembali ke lokasi camp untuk beristirahat. Gua yang pertama ini diberi nama Sigighan, yakni merupakan sejenis sumur.

Menurut yang pernah masuk kesana sebelumnya, di gua tersebut ada dua buah sumur kecil namun lebih tepatnya disebut sigighan dari pada sumur. Maka dari itu dinamakan gua Sigighan. Nama gua tersebut merupakan kesepakatan dari Kopi Malam karena sebelumnya gua tersebut tidak memiliki nama.

Pada hari selanjutnya, tepatnya, Minggu 15 November 2020, tim melanjutkan pemetaan pada gua yang kedua, untuk sampai ke lokasi gua menghabiskan waktu kurang lebih 20 menit dari lokasi camp, dan setelah sampai di lokasi gua tim langsug melakukan pemetaan kembali.

Berbeda dari gua pertama gua kedua ini lebih menarik karena di dalamnya terdapat ornamen berbentuk piring dan cucuran air dari atas gua. Namun sangat disayangkan karena kondisi gua ini sudah tidak terjaga lagi kelestariannya, banyak coretan di dinding gua mengganggu pemandangan mata.

Hal tersebut merupakan aksi vandalisme yaitu peruatan yang merusak dan menghancurkn karya seni dan barang berharga lainnya, tentu saja vandalisme tersebut merupakan perbuatan yang dilarang.

Untuk gua yang kedua ini Mapala Sakai menamainya Gua Pinggan, hal tersebut karena didalam gua banyak ornamen yang berbentuk seperti piring sedangkan piring dalam Bahasa melayu yaitu “pinggan”. Itulah alasan mengapa gua tersebut kami beri nama Pinggan. Jarak antara Gua Sigighan dan Gua Pinggan kurang lebih 100 meter.

“Untuk selanjutnya Mapala Sakai FISIP UNRI akan bergegas mencari dan menemukan gua-gua yang ada di Riau ini. Gua-gua yang belum pernah orang ketahui disinilah kami akan temukan. Kemudian Gua itu tidak dibiarkan begitu saja setelah ditemukan namun, akan dijaga kelestariannya supaya potensi alam di Riau terus berkembang.” ucap Erik Rachman selaku Ketua Mapala Sakai FISIP UNRI, Kamis, (19/11/2020).

Selesainya pemetaan goa yang kedua, maka berakhir pula kegiatan Mapala Sakai di Desa Tandun kali ini. Ekspedisi ini berjalan lancar tanpa ada kendala apapun serta tim dapat kembali pulang ke Pekanbaru dengan selamat.

Pada kesempatan ini, tim ekspedisi juga mengucapkan terimakasih kepada anggota Mapala Sakai lainnya yang telah mendukung kegitan ini dari awal persiapan hingga diterbitkannya berita ini dan juga terimakasih kepada Kopi Malam yang telah mendampingi Mapala Sakai selama melakukan kegiatan di Desa Tandun. “Semoga kedepannya Mapala Sakai dapat terus mengeksplor dan menjaga kelestarian alam yang ada di Riau”,tutupnya.(***)

 

Print Friendly, PDF & Email