Teater Matan Pekanbaru, judul karya “Ala Bisa Karena Biasa” Sutradara Ricky

oleh
Aziz Fikri SSn.MSi

Oleh :Aziz Fikri SSn.MSi

Pranata. Sinopsis: Dalam wabah Covid-19 ini membuat negeri Kemayu dilanda krisis, yang paling berat adalah krisis Psikologis. Masyrakat tidak dapat berbuat apa-apa, selain mereka mengikuti segala protokoler kesehatan yang dihimbau oleh kerajaan, termasuk mengikuti pola kebiasaan Putri negeri Kemayu yang tersohor.

Negeri Kemayu akhirnya bebas dari virus Covid- 19, masyarakat kembali pulih dari krisis. Putri negeri Kemayu sebagai tokoh idola bagi masyarakat pendukungnya berusaha sekuat
tenaga untuk mencari solusi, keluar dari wabah maut yang merenggut nyawa.

Putri yang diperankan oleh Jamal dalam lakon ini, rupanya menjadi magnet daya tarik tersendiri dalam aksi panggungnya. Jamal aktor yang dapat diangggap mampu melakukan pendekatan secara ilmiah tokoh yang dimainkan dengan bekal cukup, bahwa aktor mempunyai dua kepribadian yang berbeda. Kepribadian dalam dirinya, ketika dia berada di atas panggung, dirinya menjadi si karakter yang dimainkannya. Jamal tiada, sementara karakter putri negeri kemayu hidup di atas panggung. Untuk menciptakan peran yang dimainkannya, yakni Seorang Putri Negeri Kemayu, dia membaca beberapa naskah-naskah komedi Moliere juga observasi peran para aktor komedi yang membawa kepribadian baru ke atas panggung.

Kedalaman ekspresi aktingnya membuat dia menjadi sosok putri yang berwibawa, tidak cengeng, tidak tampak genit, tenang, pintar namun tetap berpijak dari tradisinya.

Sebuah tantangan tersendiri memainkan tokoh Putri ini, saya seorang laki-laki harus memerankan seorang putri, kata Jamal. Dia mengatakan, tugas utama seorang aktor adalah mempelajari secara menyeluruh sebelum menciptakan perannya. Belajar menelusuri kehidupan seorang putri, sejarah, adat kebiasaannya, karena karakter ini tidak bisa dimainkan dengan improvisasi saja.

Kalau aktor tidak memahami sejarah, jika tak mampu menyesuaikan dengan kehidupan lingkungan yang dialami kehidupan karakter tersebut, jika tak ia mampu menyatakan perasaan- perasaan yang ada dalam diri si karakter sesuai dengan kehidupan masyarakatnya, maka aktor hanya dapat disebut amatir. Kebenaran adat kebiasaan, akan menentukan bahasa yang dipakai si karakter, bahasa tubuh, gerak gerik tubuh, tingkah laku serta sikapnya.

Demikian juga dengan tokoh khadam yang diperankan Erik, kedua tokoh tersebut menjadi menonjol, disamping juga tokoh lainnya. Pesan yang disampaikan Baginda Raja tentang
sosialisasi wabah secara verbal telah tersampaikan kepada penonton dengan gamblang.

Pendekatan akting dalam pertunjukan ini representasi, hal mana si aktor menentukan terlebih dahulu tindakan- tindakan yang dilakukan karakter tokoh yang diperankannya. Si aktor dengan
sengaja memperhatikan bentuk yang menciptakan itu, sembari melakukan di atas panggung.

Sutradara “Ala Bisa Karena Biasa” Ricky mengatakan, kekuatan penyutradaraan ini, memang terletak pada kecerdasan para aktornya. Sutradara mengarahkan, mengontrol, sedangkan kreativitas diserahkan pada para aktornya, inilah peluang luas bagi si aktor untuk mengeksplor, mencipta peran sesuai dengan keinginannya.

Memang seorang sutradara harus
lihai memilih para pemainnya, ketepatan dalam mengkesting pemain hingga saat pementasan yang disutrdarainya menjadi suatu peristiwa teater yang bernilai seni dan menarik bagi penontonnya. Komedi, pilihan tepat Ricky pada penyajian kali ini.

Ala Bisa Karena Biasa” setidaknya, sajian yang dapat menyegarkan kembali dari kehidupan yang sedang kita hadapi saat ini saat wabah covid 19 mendunia.. Jika drama komedi ini membuat orang atau penonton tertawa, maka sesungguhnya kita sedang mentertawakan diri sendiri. Tugas aktor komedian membersihkan moral dengan cara melucu, mengejek bahkan mentertawakan. Hampir tak dapat dibedakan antara, apa itu komedi, humor, atau jenaka.

Sesuatu yang lucu boleh diucapkan setiap orang, tapi dari orang jenaka banyak diharapkan ucapan-ucapan yang lucu. Jenaka mengatakan secara positif, sedang humor alam satu sisi barangkali positif, tetapi pada sisi lain bisa jadi diucapkan dengan sembrono, karena seringkali mengabaikan batas- batas kewajaran.

Komedi juga memberikan sensasi tersamar dalam sindiran (satire) yang pedas. Teori komedi sering dihubungkan dengan kemerdekaan dalam berekspresi dan kemenangan karena kebebasan. Seniman komedi menemukan berbagai spektakel yang berasal dari kehidupan manusia dengan pengertiaan mendalam, bahkan sebagian kecil dari padanya dirasakan menggelikan hati, ini bermaksud menyindir untuk memperbaiki keadaan. Bahkan dalam situasi seperti ini akan sulit untuk dikoreksi atau diperbaiki. Oleh sebab itu ia membuat karikatur, parody atau mencemooh keadaan itu, menyemarakkan, bahkan mungkin
merusak keadaan. Sebagai penonton, pendengar, kita tertawa manakala situasi itu berhubungan dengan sseorang atau diri kita sendiri.

Kadangkala gesture para pemain “Ala Bisa Karena Biasa” tampil seronok naif, bloon, kekanak-kanaan, misalnya tokoh khadam perempuan. Baik dari komposisi bloking, pola acting, bisnis acting, maupun kostum makeup dan propertinya. Sedangkan tokoh khadam laki-laki, memang aktornya punya body tubuh tergolong pendek, menjadi daya tarik tersendiri.

Seperti yang terlihat pada salah satu adegan diatas, Misalnya kostum khadam boleh dikatakan pakaian keseharian. Khadam perempuan, memakai daster berwarna ping, sandal jepit, rambut dikucir dua, dengan properti sebuah sapu lidi dijepit diantara dua pangkal paha.

Sedangkan khadam laki-laki, memakai kostum atau busana muslim harian, memakai songkok kain berwarna
putih, bersandal jepit. Sebenarnya kostum dan makeup ini merupakan perlengkapan yang melekat pada pemeran, membantu penonton agar mendapatkan ciri khusus atas pribadi peranan.

Selan itu juga membantu memperlihatkan adanya hubungan peranan yang satu dengan peranan
lainnya. Misalnya seragam Pengawal istana. Penataan rias tidak terbatas pada bagaimana membuat cantik, namun lebih dari itu yakni mengubah yang alami menjadi budaya. Artinya merubah wajah sesuai dengan peranan atau karakter yang dikehendaki.

Bahkan untuk pementasan drama komedi ini, kostum makeup pemeran mesti ekstra menarik, jika perlu dengan dekoratif makeup dan kostum full colour. Seorang pemain sebelum didengar suara atau vokalnya, pastilah terlihat terlebih dahulu. Kesan pertama yang ditimbulkan pada penonton mengenai dirinya adalah pada yang Tampak, pakaian yang pertama kali membantu menggariskan karakternya, dan pakaian yang dikenakannya selanjutkan memperkuat kesan pada lakon yang akan diperankan.

Pada lakon ini penataan kostum makeup secara keseluruhan kurang tergarap dengan detail, masih memanfaatkan pakaian keseharian, padahal sebuah pementasan drama komedi atau boleh saya katakan komedi situasi ini, kostum make up perlu dirancang dengan matang. Makeup pun bisa dirancang, misalnya selain korektif makeup, bisa karakter makeup bahkan dekoratif makeup, dengan kata lain, ini realitas panggung, kostum makeup pun mesti sesuai dengan norma atau kaidah serta konvensi panggung bukan realitas sehari hari.

Upaya sutradara dalam merancang panggung, komposisi dan gerak akting para pemerannya pun dilakukannya dengan sungguh-sungguh, setiap momen diatas panggung dianggap gambaran tranformasi pesan-pesan yang hendak disampaikan ke penonton. Bagaimana seriusnya sutradara dalam mengatur
pergantian adegan dengan blackout lampu sembari menata set dekorasi pada pergantian adegan juga komposisi bloking para pemerannya fariatif.

Sebagian besar para Aktornyapun merupakan pemain lama Teater Matan yang sudah sering memainkan lakon lakon komedi, baik dengan gaya teater rakyat atau tradisi maupun modern. Sebuah proses penggarapan drama komedi situasi dengan waktu yang lebih kurang kurang dua puluh hari, dengan naskah lakon sendiri, produksi mandiri, adalah sangat wajar jika ada beberapa elemen pertunjukan yang tak terselesaikan dengan baik. (***)

Print Friendly, PDF & Email