Memahami Maksud Allah Memilih Kita Menjadi Manusia

oleh

PEKANBARU, Saturealita.com-Pernahkah kita merenung sejenak mengapa Allah SWT menghadirkan kita kemuka bumi ini ? Proses kejadian manusia yang pernah kita pelajari dalam ilmu biologi dimana ada 500 juta sel spermatozoa yang berebut masuk ke indung telur Ibu kita, pernahkah kita bertanya-tanya mengapa kita yang terpilih ? Tentunya ini bukan terjadi secara kebetulan tetapi karena memang Allah SWT menginginkannya. Maka dari itu diri kita sepenuhnya milik Allah SWT sehingga sebagai manusia harus memahami apa maksud atau rencana Allah menghadirkan kita kemuka bumi ini. Al quran menjelaskan di tiga surat yakni surat al Baqarah, Zariyat dan Al Insan terkait dengan apa maksud Allah menghadirkan kita kemuka bumi ini.

Di surat al baqarah ayat 30 Allah berfirman “waizqola robbuka lilmalaikati inni jailun fil ardi khalifah” ingatkah kamu ketika Allah SWT berkata kepada malaikat bahwa Allah ingin menjadikan manusia sebagai khalifah. Khalifah artinya pemimpin secara lebih fleksibel maknanya adalah menjadi orang yang memberikan manfaat bagi orang lain. Sebagaimana juga di perkuat oleh hadist nabi “khairunnas afauhum linnas” sebaik-baiknya manusia yang paling memberikan manfaat bagi orang lain. Jadi jelas yang pertama misi kita adalah memberikan manfaat kemanfaatan bagi semesta ini dan mahluknya.

Sedangkan surat Azarriyat ayat 56 Allah berfirman “wamahollaqtujinna walinsa illa liyaqbudun” tak kuciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada ku. Jadi Allah disini menegaskan bahwa posisi kita adalah sebagai hamba. Yang namanya hamba ya harus taat kepada tuannya. Dan kita adalah hamba dari Allah SWT yang konsekuensinya apa yang menjadi perintah dan larangan dari Allah kita harus ikuti, ini adalah misi kita mengapa Allah mau menghadirkan kita ke muka bumi. Jika ada orang yang melanggar perintah Allah atau melakukan hal-hal yang di larang oleh Allah maka itu sama halnya kita lari atau keluar dari maksud dari Allah SWT menghadirkan kita ke muka bumi ini.

Sedangkan misi ke tiga kita menurut surat al Insan ayat ke 2 adalah, dimana Allah berfirman “innaholaqnal insana min nutfatih amsajih nabtalihi faja’alnahu sami’an basiran” sesungguhnya Allah SWT menciptakan manusia dengan setetes mani yang bercampur yang Allah SWT hendak mengujinya, sehingga Allah SWT berikan penglihatan dan pendengaran. Orang di nilai dari prilakunya atau tindakannya. Sedangkan sumber motivasi dari tindakan kita adalah keputusan dari cara berpikir kita. Jika cara berpikir kita baik maka baiklah tindakan kita dan jika cara berfikir kita buruk maka buruklah tindakan kita.

Dan ternyata proses pembentukan pola pikir sangat di pengaruhi oleh dua panca indra ini yakni mata yang berguna untuk melihat dan telinga yang berguna untuk mendengar. Dari mata kita bisa membaca dan melihat seluruh peristiwa yang kemudian membentuk mindset atau pola pikir kita. Dari telinga kita bisa mendengar berbagai pendapat dan informasi yang juga akan membentuk pola pikir kita. Maka dari itu ujian kehidupan kita karena Allah memberikan mata dan telinga kita karena mata dan telinga sebagai alat yang membentuk pola pikir yang berujung kepa tindakan kita. Tindakan yang di ulang-ulang menjadi kebiasaan, kebiasaan menjadi karakter kita. Karakter ini menjadi simbol dari kepribadian kita. Untuk itu tidak ada pilihan bagi kita jika ingin memperbaiki kualitas hidup kita maka seluruh tindakan kita harus sesuai dengan rencana Allah, semuanya akan diawali dari memperbaiki pola pikir kita.

Bahwa kehidupan ini penuh onak dan duri, setiap orang pasti menghadapi berbagai masalah, baik masalah pribadi maupun masalah yang bersifat umum. Yang pasti dunia kini dihadapkan dengan berbagai tantangan dan perubahan global. Di dunia kita berhadapan dengan problem hidup yang luar biasa, yaitu berupa change, challenge, competitive, complexcity dan uncertainty. Tetapi dibalik problem tersebut ada peluang, ada opportunities. Sesungguhnya air susu itu ada diantara darah dan kotoran, sehingga orang-orang yang dapat menjaga stabilitas motivasinya yang akan survive dan meraih kesuksesan hidup.

Kualitas secara fisical, intelektual, emosional dan spiritual menjadi motor penggerak memandu menuju arah yang hidup yang benar dalam proses meraih kesuksesan hidup. Dia berwujud motivasi, semangat, gairah dan determinasi tinggi yang berasal dari dalam diri sendiri untuk mencapai sesuatu yang menjadi tujuan. Motivasi semangat, gairah dan determinasi tinggi menjadi bahan baku dasar dari sebuah kata yang dinamakan kesuksesan. Motivasi yang luar biasa dapat menimbulkan energi yang luar biasa yang akan membuat seseorang bekerja keras, dan bahkan dapat membuat sesuatu yang pada awalnya terlihat tidak mungkin untuk dilakukan menjadi indah untuk dilakukan. Pentingnya motivasi diri untuk meraih kesuksesan tidak dapat diragukan lagi. Tetapi untuk menumbuhkan motivasi dalam diri seseorang tidaklah mudah, karena motivasi juga sering dipengaruhi oleh perasaan dan emosional yang ada dalam diri seseorang. Dengan berbekal motivasi diri dan pengetahuan yang benarlah, secara otomatis kita sudah berada pada arah dan proses sukses yang kita cita-citakan.

Sukses adalah sebuah kata yang begitu sederhana, namun membutuhkan proses panjang untuk meraihnya. Karena prosesnya yang cukup panjang, maka kita perlu terus menerus meng-upgrade pengetahuan dan menjaga stabilitas motivasi agar berbagai rintangan yang dihadapi dapat di lalui dengan baik. Banyak orang yang dianugerahkan kecerdasan, bakat, keturunan yang kaya, serta kemampuan yang luar biasa dalam kehidupannya, tetapi tidak memahami makna sukses hidup yang sesungguhnya. Sehingga kita barangkali pernah membaca, mendengar atau menyaksikan ada sejumlah orang yang sedang berada di puncak populeritas dan kejayaannya, tetapi pada waktu itulah dia mengambil jalan mengakhiri hidupnya sendiri secara tragis. Kurangnya pengetahuan makna sukses yang sesungguhnya membuat banyak orang berharta tetapi hidupnya resah, banyak orang berilmu tetapi hatinya kumuh, banyak pejabat hanya membuat mudhorat bagi rakyat. Penting bagi kita untuk membentuk pola pikir yang cerdas dan positif sehingga kita sebut dengan cerdas secara intelektual, kemudian mampu membangun hubungan dengan orang lain kita sebut dengan cerdas secara emosional, serta mampu mengkaitkan seluruh aktivitas kehidupan ini dengan kepentingan Allah SWT yang kita sebut dengan spiritual mindset.

Penulis Yusriadi, SE, MM adalah Personality Development Trainer 

 

Print Friendly, PDF & Email