Panahan Punya Cerita dan Anak Angkat Dari Bumi Tanah Cendrawasih Papua

oleh
Pelatih Panahan Riau Muslim dihimpit dua anak Papua sebagai saudara angkat

PEKANBARU, Saturealita.com-Kisah dan cerita menarik saat berlaga di Pekan Olahraga Nasional (PON) ke-XX Papua.

Kisah dan cerita menarik dari Pelatih cabang olahraga (cabor) Panahan Riau, Muslim, Selasa, (12/10/2021) usai tiba di Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru.

“Awal kami bertanding, sekelompok anak-anak Papua selalu datang melihat para atlet memainkan busur panahnya”, kata Muslim mengawali perbincangannya usai jamuan makan siang oleh Pengurus Persatuan Panahan Nasional Indonesia (Perpani) Riau disalah satu rumah makan ternama di kota Pekanbaru.

Menurut hemat dan pikiran positif, anak-anak Papua yang juga ahli memainkan busur panah sejak kecil, barang kali sedikit heran, bahwa panahan yang sering mereka pakai terbuat dari bahan sederhana.

Ketua Perpani Riau Isnorizal saat menyaksikan sekelompok anak Papua sedang menyantap makan siang

Setelah melihat bermacam jenis bentuk panahan yang digunakan atlet PON, berkeinginan mau lihat atau memegangnya.

“Sangkin seringnya anak-anak Papua melihat kelapangan panahan, saya ajak untuk mendekat sambil bercanda gurau”, sebut Muslim.

Hari terus bertambah, sekelompok anak-anak Papua tersebut semangkin akrab menemani para atlet panahan Riau, hingga menjadi anak angkat.

Bahkan, jatah makan para atlet sering mereka santap tanpa ada keraguan yang menjadi batas bagi anak Papua tersebut.

“Lantas, saya sangat senang sekali, bertambahnya keluarga di Tanah bumi cendrawasih Papua”, kenang Muslim saat berada disana.

Terkait cerita dan keamanan di sekitar wilayah tanah Papua yang menurut berbagai informasi mencekam, sama sekali tidak benar.

Mereka itu sama dengan masyarakat yang ada di Kota Pekanbaru Provinsi Riau, tau adat dan istiadat menghargai tamu yang datang ke daerahnya.

“Jadi dari balik cerita menarik ini, ada pesan moral, kalau kita saling menghargai, semua akan berjalan baik dangan sendirinya”, ujar Muslim mengakhiri ceritanya. (***)

Print Friendly, PDF & Email