Penampilan Produksi Lembaga Teater Selembayung 2022

oleh

Seulas tentang teks “Migran Terakhir”

Naskah pendek ini diberi judul, “Migran Terakhir”. Teks ini juga merupakan riset pribadi atas pengalaman penulis atau sutradara sepanjang perjalanan waktu yang dilalui. Rasa yang campuraduk antara cinta dan benci, senang dan kecewa, tawa dan marah, maju dan mundur, terbang dan terjerembab, bahagia dan hamuk berselikau di hati dan kepala.

Rasa-rasa itu tak kunjung mereda. Bahkan semakin membuncah dan mulai membusuk, menuju fermentasi menjadi bangkai. Ah… Manusia memang bukan mahluk pertama yang meracuni bumi dengan syahwat celakanya. Namun manusialah yang biografi kejahatannya super lengkap hingga hari ini.

Artinya, sebagai “Penumpang Terakhir” di muka bumi ini, manusia tak henti-henti mencabik-cabik tubuh “Ibu”-nya (bumi) dengan beringas. Tak berhatiperut, bahkan cendrung sadis. Bahkan banyak orang bijak meyakini, sejak 300 tahun terakhir, keberingasan manusia mengeksploitasi alam kian menjadi-jadi. Manusia menggila secara massal hanya untuk satu keinginan belaka yakni kesenangan semu.

Seolah-olah, untuk mereka saja semesta ini diadakan. Kepada mereka pula bumi ini dititipkan untuk segera dibumihanguskan. Nafsu-nafsi tak henti-hentinya dipertontonkan. Bahkan menjadi biasa dan lumrah ketika kebejatan terjadi dimana-mana. Barangkali, kekhawatiran penghuni langit saat Tuhan hendak menciptakan manusia, terbukti dan nyata adanya. Untuk apa mereka Kau ciptakan, mereka hanya akan membuat kekacauan dan saling menumpahkan darah satu sama lainnya.

Kata “Migran Terakhir” atau “Last Migrant” ini penulis kutip dari esai seorang budayawan Riau, Prof Yusmar Yusuf yang begitu rajin serta bergairah menuangkan pikiran-pikirannya kepada khalayak. Ia tidak ambil pusing, apakah pikirannya itu dapat diterima dan diserap pembaca. Baginya, kecerdasan sudah menjadi kodrat manusia jika ia (manusia) itu menyadari untuk apa mereka diciptakan dan menjadi pemimpin di muka bumi ini.

Konsep Garapan

Untuk membumikan teks “Migran Terakhir” penulis atau sutradara mengutip salah satu kekayaan budaya Riau. Yakni “Tari Cegak” asal Kampung Ulak Patian yang dihuni suku anak dalam, Suku Bonai. “Cegak” atau “Sembuh” tentu saja dialamatkan bagi orang yang sakit. Tarian ini hanya ada di Suku Bonai yang menetap di Ulak Patian.

Tarian ini tentu saja tidak terlepas dari mitos-mitos yang populer ditengah-tengah masyarakat kampung Ulak Patian. Tarian ini mengisahkan lima (5) orang pemuda yang terobsesi untuk memiliki kesaktian. Mereka begitu tekun dalam menuntut ilmu, dalam hal ini tentu saja “ilmu kebatinan”. Setelah sekian lama belajar dan menyerap semua pesan yang diamanatkan, mereka pun ingin kembali ke kampung halamannya.

Kelima orang itu ditentang penguasa saat itu. Mereka dikejar-kejar dan bersembunyi di kebun pisang. Merekapun melakukan penyamaran dengan memakai daun pisang kering atau kresek. Penyamaran berhasil, namun secara ajaib mereka tidak bisa kembali lagi ke posisi normal.

Karena tidak menemukan solusi, kelima pemuda itu berjalan hingga tiba di kampungnya kembali. Saat mereka tiba, orang kampung sedang berpesta dengan menampilkan musik Gondang Barogong. Mereka ikut bergabung dan menari dan saat musik berhenti, daun-daun pisang (kresek) lepas dengan sendirinya dari tubuh mereka.

Ilmu, apa pun itu tentu saja bersifat objektif. Hanya orang berilmulah yang mampu membuka cakrawalanya dalam bersikap dan bertindak. Ilmu itu pula yang memposisikan pemiliknya di jalur mana. Jika diarahkan pada kebaikan maka baiklah hasilnya. Jika diarahkan untuk keburukan, maka sengsaralah jiwa dan badan. Baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Dalam garapan “Migran Terakhir”, orang-orang berilmu digambarkan dengan sosok manusia memakai kostum daun pisang kering. Mereka seperti terjun ke laut lepas dan mencoba untuk meminum airnya. Semakin diminum, maka semakin dahagalah ia. Orang-orang berilmu terlihat bagai manusia yang tersesat dan mengalami pengalaman batin yang luar biasa.

Para aktor mengucai (menggerutu/ merepet/ bersungut-sungut) tentang tabiat manusia di muka bumi yang tak ada puasnya merusak dan saling bertikai satu sama lain. Bahkan aktivitas pembumihangusan semesta tak lagi terhindarkan.

Dalam karya ini, sutradara mencoba untuk mengawinkan tiga unsur dialog antaralain; dialog tubuh, dialog bunyi (vocal atau musik) dan dialog verbal. Perbancuhan ketiga unsur dialog itu menjadi satu kesatuan dan berkaitkelindan untuk dipahami sebagai teks.

Sinopsis

Kita tidak mengenal apa dan siapa mahluk yang dikatakan penghuni langit saat Tuhan hendak menciptakan manusia. Bahkan penciptaannya melahirkan silang sengketa yang pertama pula di langit. Semaksamun sengketa itu bergulir ke bumi dan berlangsung jutaan tahun lamanya. Manusia yang dikuasai syahwat dan nafsu-nafsilah yang memuncaki kebejatan di muka bumi.

Satu sama lain memainkan peran sebagai pemenang. Dan kekalahan hanya serupa kutukan yang harus segera dilupakan. Dikubur sedalam-dalamnya.

Migran Terakhir
(karya Fedli Azis)
Produksi Lembaga Teater Selembayung 2022

Jasa Website Pekanbaru