Kisah Panjang Tentang Persatuan, Perjuangan dan Harapan Tak Pernah Padam
PEKANBARU,saturealita.com-Ikatan Mahasiswa Minangkabau (IMAMIKA) periode 2025/2026 menggelar kegiatan BAREK (Barundiang, Refleksi Ka Nan Baiak) dengan tema “Dari Rantau Untuak Ranah, Menyatukan Gagasan, Mewujudkan Perubahan.”
Kegiatan ini berlangsung pada Sabtu, (2/5/26) bertempat rumah dinas Wakil Ketua DPRD Provinsi Riau, Parisman Ihwan.
Dalam sambutannya, Parisman Ihwan menekankan pentingnya menjaga persatuan, kerja sama, dan rasa kekeluargaan di perantauan.
Ia mengingatkan bahwa identitas sebagai orang Minangkabau harus menjadi pengikat yang memperkuat solidaritas antar mahasiswa.
“Di rantau ko, kito indak punyo siapa-siapa lagi selain dunsanak kito sandiri. Jadi jagolah persatuan, kuatkan rasa kekeluargaan. Kalau kito basatu, insyaallah nan gadang bisa kito capai basamo.”

Kemudian, bahwa mahasiswa Minangkabau harus mampu menjadi agen perubahan tanpa melupakan akar budaya.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal KNPI DPD Riau, Nofri Andri Yulan, dalam pemaparannya mengajak mahasiswa untuk meneladani karakter orang Minangkabau yang kuat dan berprinsip.
Dalam pemaparnya, sejarah panjang Minangkabau yang dikenal sebagai orang-orang yang tangguh, berprinsip, serta memiliki cita-cita tinggi. Menurutnya, nilai-nilai tersebut harus terus dijaga oleh generasi muda di mana pun berada.
“Urang Minang itu dari dulu dikenal punyo prinsip. Di mano bumi dipijak, di situ langik dijunjuang, tapi jati diri indak buliah hilang. Kito harus punyo tujuan hidup nan jelas, punyo pendirian, dan indak mudah goyah dek keadaan.”, ujarnya

Dirinya menambahkan, kecerdasan harus diiringi dengan kontribusi nyata.
Pemateri lainnya, Hasbullah Tanjung, merupakan perwakilan pendiri sekaligus demisioner IMAMIKA, menjelaskan sejarah lahirnya organisasi tersebut.
Dalam jawatannya, IMAMIKA bermula dari rangkaian kegiatan bakti sosial, penggalangan dana untuk para korban banjir wilayah Pangkalan. Selanjutnya seiring waktu berjalan, berkembang menjadi wadah persatuan mahasiswa Minangkabau perantauan.
“Dulu IMAMIKA lahir bukan dari rencana nan gadang, tapi dari hati nan peduli. Waktu itu kito galang dana untuk korban banjir wilayah Pangkalan pada tahun 2015. Dari sanalah muncul rasa, ‘kenapa kito indak basatu saja sebagai mahasiswa Minang rantau?”, ulasnya sembari berkata ingatkah nilai kebersamaan harus tetap selalu dijaga sampai kapanpun.
Hal senada disampaikan demisioner Ketua Umum IMAMIKA periode 2024/2025 pada masanya, Halim Fajri Ananda. Ia berbagi pengalaman dalam membesarkan organisasi.
“Mambangun organisasi itu indak mudah. Kadang capek, kadang diremehkan. Tapi kalau kito yakin, sabana rumah ko adalah rumah basamo, maka kito akan tetap bertahan.” paparnya.
Dirinya juga menekankan pentingnya rasa memiliki dalam organisasi.
“IMAMIKA ko bukan milik pengurus saja, tapi milik kito basamo. Kalau indak kito jago, sia lai nan akan manjagonyo?”, tegas dengan logat Minangnyo.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan makan bersama dalam suasana hangat penuh kekeluargaan.
Setelah itu, para pengurus melaksanakan evaluasi kinerja selama setengah masa jabatan, melaporkan program kerja yang telah berjalan, serta merumuskan langkah strategis ke depan.
BAREK bukan sekadar forum diskusi, melainkan ruang untuk menyatukan hati dan pikiran. Dari rantau, mahasiswa Minangkabau belajar bahwa pulang bukan hanya tentang kembali ke ranah, tetapi juga tentang membawa perubahan, nilai, dan kontribusi.
Dalam kebersamaan yang terjalin, tersirat satu pesan mendalam, bahwa rantau bukanlah tempat untuk kehilangan jati diri, melainkan ruang untuk meneguhkan identitas. Dan IMAMIKA, dalam langkahnya hari ini, sedang menulis kisah panjang tentang persatuan, perjuangan, dan harapan yang tak pernah padam. ***







