Oleh : Yusriadi, SE, MM ( Personality Development Trainer)
Pekanbaru.Saturealita.com – Sejumlah teori motivasi dari Barat seperti Maslow, Clayton dan McClelland ternyata belum memasukkan unsur spiritual sebagai dasar orang melakukan pekerjaan. Maslow terfokus pada hirarkis kebutuhan fisiologis, safety, social, appreciation, dan self actualization. Sedangkan Clayton dengan konsep ERG nya atau singkatan dari Existence, Relation dan Growth yang merupakan simpelisasi dari teori motivasi Maslow. Sedangkan McClelland hanya berfokus kepada motivasi berprestasi, kekuasaan dan afiliasi.
Dari semua teori motivasi yang ada, tidak ada yang membahas unsur dorongan yang disebabkan karena nilai-nilai spiritual. Inilah yang menyebabkan banyak tindakan-tindakan non spiritual dalam bekerja, seperti bekerja karena dilihat bos, bekerja karena materi oriented, bekerja karena ingin memenuhi permintaan anak dan istri yang kadang harus menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya. Maka spiritual motivation menjadi sangat penting kita miliki agar kita tidak terjebak dalam pemikiran materialistis atau kapitalis.
Spiritual motivation ditandai dengan kemampuan mengkaitkan aktivitas seseorang dengan kepentingan Allah SWT dan ajaran Rasulullah. Misal nabi menyebutkan khoirunnas ‘anfa uhum linnas (sebaik-baiknya manusia yang paling banyak memberikan manfaat) maka ketika seseorang melakukan pekerjaan basisnya bukan karena ingin dilihat bos, atau karena gaji semata, tetapi karena ingin memberikan kemanfaatan bagi orang lain sehingga ia akan lebih produktif dalam bekerja. Konsep ini tidak membuat orang menjadi penjilat, sikut sana sikut sini, injak sana injak sini, memfitnah atau menyuap untuk mendapatkan jabatan atau kekayaan karena dia tau perbuatan tersebut dilarang dalam ajaran agama.
Maka mari kita kembali merenung apakah selama ini ketika kita bekerja sudah memasukkan unsur spiritual didalamnya, karena apabila kita berhasil memasukkannya maka kita menjadi pribadi yang produktif tanpa batas, karena kita bekerja menjadi ibadah dan lebih berfokus kepada kepentingan Allah, bukan kepentingan mahluk.
Penulis adalah Dosen dan Trainer dalam Pengembangan SDM