KAMPAR (saturealita.com) – Sabtu malam (16/8/2025) suasana Terminal Sungai Pagar mendadak berubah jadi lautan tawa dan tepuk tangan. Ribuan warga tumpah ruah, dari anak-anak sampai orang tua, semua terhipnotis oleh penampilan Sanjayo Art dalam acara Pentas Seni Rakyat menyambut HUT RI ke-80.
Bukan tanpa alasan. Sanggar seni yang sudah berdiri sejak 28 Februari 2008 ini memang selalu berhasil bikin penonton betah. Malam itu, mereka tampil dengan paket lengkap: musik komposisi, musikalisasi puisi, dan tentu saja — sajian utama yang paling ditunggu, teater.
Di bawah arahan sutradara Zulkifli, Sanjayo Art mempersembahkan lakon “PONEK”. Begitu aktor naik panggung, penonton langsung hanyut. Gelak tawa pecah, sorakan riuh terdengar, bahkan ada yang rela berdiri demi tidak ketinggalan satu adegan pun.
“Malam ini memang spesial, karena permintaan langsung dari Ketua Pemuda Rizki Ramadhan dan Pak Lurah Zulpadli untuk memeriahkan HUT RI, support mereka memang luarbiasa” kata Zulkifli, usai pementasan.
Meski sudah hampir 18 tahun berdiri, Sanjayo Art tidak kehilangan energi muda. Mereka justru makin segar dengan hadirnya generasi baru yang ikut main di “PONEK”. Menariknya, pemain muda ini digabungkan dengan aktor lama sehingga menghasilkan chemistry yang natural dan penuh kejutan di panggung.
“Beberapa aktor baru cukup cepat belajar. Kami kombinasikan dengan pemain senior supaya mereka makin matang,” tambah Zulkifli.
Nama Yesi Arisandi juga ikut mencuri perhatian. Aktris senior Sanjayo Art sekaligus pemain sinetron Mengejar Cahaya ini turun langsung membimbing para aktor baru. Hasilnya? Penampilan solid, segar, dan bikin penonton susah beranjak.
Di bawah kepemimpinan Sendy Alpagari, Sanjayo Art terus membuktikan diri sebagai sanggar yang bukan hanya piawai melahirkan karya, tapi juga mencetak generasi seniman baru. Dari teater, tari, musik, sampai seni rupa, mereka tetap eksis dan berprestasi — dari level lokal, nasional sampai internasional.
Malam itu, Sanjayo Art bukan sekadar tampil. Mereka menegaskan, seni masih punya tempat besar di hati masyarakat. Dan lakon “PONEK” jadi bukti, bahwa seni selalu bisa jadi ruang tawa, ruang bersama, dan ruang untuk pulang. (***/s.topan)