Fauzi Kadir: BUMD Butuh Leader Experience dan Trust
PEKANBARU,saturealita.com-Proses seleksi fase akhir calon direksi PT Riau Petroleum menuai sorotan. Enam nama yang muncul sebagai kandidat Direktur Operasional dan Direktur Keuangan dinilai belum mencerminkan kebutuhan perusahaan daerah yang bergerak di sektor migas tersebut.
Dikutip dari SabangMeraukeNews.com, tiga nama yang masuk kandidat Direktur Operasional yakni Akmal Fauzi Lindung Lubis, Fazar Muhardi, dan Heri Susanto Abbas.
Sementara untuk posisi Direktur Keuangan muncul nama Ashajri Hadi, Ganesya Varandra, dan Novyandre.
Munculnya enam kandidat tersebut memantik kritik dari sejumlah kalangan.
Selain dinilai memiliki latar belakang yang beragam, sebagian kandidat disebut tidak memiliki rekam jejak kuat di sektor minyak dan gas bumi. Bahkan, keterwakilan putra daerah juga dianggap minim.
Tokoh masyarakat Riau, H. Fauzi Kadir, mengaku kecewa terhadap hasil uji kelayakan dan kepatutan yang dilakukan panitia seleksi. Ia berharap Pemerintah Provinsi Riau lebih cermat menentukan sosok yang akan memimpin BUMD migas tersebut.
“Direktur PT Riau Petroleum harus memiliki pengalaman dan kapasitas keilmuan yang jelas. Selain itu, juga memahami kultur lokal, memiliki pendekatan yang scientific, serta mampu membangun tim kerja yang kolektif dan modern,” kata Fauzi saat dihubungi melalui telepon seluler, Kamis (30/4/2026).
Menurut Fauzi, dengan standar tersebut, figur putra daerah yang memiliki kapasitas seharusnya lebih diprioritaskan dalam proses seleksi.
“Banyak anak negeri ini yang punya kemampuan untuk memimpin BUMD. Saya heran mengapa tidak ada nama putra daerah yang masuk dalam tiga besar kandidat. Padahal banyak anak jati Melayu yang memiliki pandangan visioner, dan memahami persoalan daerah,” ujarnya.
Ia bahkan menilai proses seleksi perlu dievaluasi kembali agar benar-benar mengedepankan kompetensi dan kepentingan daerah.
“Ini menjadi pembelajaran bagi negeri ini. Syarat dan kompetensi harus menjadi kaidah utama dalam menentukan pimpinan BUMD. Kalau coba-coba, alamat hancur negeri kita ini,” tegasnya.
Fauzi juga menyinggung pernyataan Plt Gubernur Riau, SF Hariyanto, yang sebelumnya menegaskan bahwa seleksi direksi BUMD dilakukan tanpa campur tangan “orang dekat” maupun titipan politik.
Saat itu, Fauzi mengaku optimistis pernyataan tersebut menjadi langkah baik untuk membangun kepercayaan publik terhadap tata kelola kelembagaan di lingkungan Pemerintah Provinsi Riau.
Namun, ia menyayangkan nama-nama yang kini muncul menjadi kandidat direktur di PT Riau Petrolium justru dinilai dekat dengan lingkaran kekuasaan.
“Sekali lagi saya katakan, experience dan trust itu penting bagi seorang pemimpin. Ingat, kondisi negeri kita sekarang ini tidak lagi kuning, tapi sudah merah. Jadi jangan lagi pakai ilmu coba-coba,” pungkas Fauzi. (*)





