Sinar UV Mengintai Pekerja Lapangan FK Unri Turun ke Desa Balam

Bekali Warga Ilmu Melindungi Kulit Dari Ancaman Kerusakan dan Kanker

Lewat Edukasi Kesehatan Berbasis Histologi, FK Unri Ajak Masyarakat Rokan Hilir Kenali Bahaya Paparan Matahari, Terapkan Perlindungan Kulit, hingga Waspadai Tanda Awal Penyakit

ROKAN HILIR, saturealita.com-Bekerja di bawah terik matahari menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat, terutama petani, pekerja kebun, dan berbagai profesi lapangan lainnya. Namun, di balik aktivitas yang menopang kehidupan dan perekonomian tersebut, terdapat risiko kesehatan yang kerap luput dari perhatian, yakni paparan sinar ultraviolet (UV) yang dapat merusak jaringan kulit.

Menyikapi kondisi tersebut, tim pengabdian kepada masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Riau (FK Unri) hadir di Desa Balam, Kabupaten Rokan Hilir, untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan kulit melalui edukasi berbasis histologi.

Kegiatan seminar kesehatan yang diikuti sekitar 50 peserta ini menjadi langkah nyata FK Unri dalam mendekatkan pengetahuan medis kepada masyarakat. Tidak sekadar menyampaikan teori, edukasi tersebut juga membekali peserta dengan pemahaman praktis mengenai bahaya paparan sinar UV, cara melindungi kulit ketika bekerja di luar ruangan, serta mengenali perubahan kulit yang perlu mendapatkan perhatian medis.

Melalui pendekatan histologi atau ilmu yang mempelajari struktur jaringan tubuh, masyarakat diajak memahami bahwa kulit bukan sekadar lapisan terluar tubuh, melainkan organ penting yang memiliki fungsi perlindungan dan perlu dijaga kesehatannya sepanjang waktu.

Bukan Eekedar Kulit Terbakar Paparan UV Berulang Bisa Memicu Penuan Dini dan Meningkatkan Resiko Kanker Kulit

Dalam pemaparan materi, Dr. dr. Huriatul Masdar, M.Sc., yang akrab disapa Dokter Uul, menjelaskan bahwa sinar ultraviolet merupakan salah satu faktor lingkungan yang perlu diwaspadai, terutama bagi masyarakat yang memiliki intensitas aktivitas tinggi di bawah sinar matahari.

Ia menjelaskan bahwa sinar UV terdiri atas tiga jenis, yakni UVA, UVB, dan UVC. UVC pada umumnya diserap oleh atmosfer sehingga tidak mencapai permukaan bumi dalam kondisi normal. Sementara itu, UVA dan UVB dapat mencapai kulit dan menimbulkan dampak terhadap jaringan tubuh.

Sinar UVA dapat menembus lebih dalam hingga lapisan dermis dan berperan dalam proses penuaan dini pada kulit. Adapun UVB terutama memengaruhi epidermis dan menjadi penyebab utama kulit terbakar akibat paparan matahari. Paparan berlebihan dan berulang terhadap radiasi UV juga dapat merusak sel kulit serta meningkatkan risiko kanker kulit.

Karena itu, masyarakat perlu memahami bahwa dampak paparan matahari tidak selalu langsung terlihat. Kerusakan kulit dapat berkembang seiring waktu, terutama apabila seseorang terus-menerus terpapar tanpa perlindungan yang memadai.

“Kami ingin masyarakat memahami bahwa kulit bukan sekadar bagian luar tubuh, melainkan jaringan yang perlu dijaga kesehatannya. Dengan memahami dampak sinar UV, pekerja lapangan diharapkan dapat memilih langkah perlindungan yang sesuai dan mengenali perubahan pada kulit sejak dini,” ujar Dokter Uul.

Matahari Tak Selalu Terasa Menyengat, Risiko UV Tegak Ada Meski Cuaca Berawan

Salah satu hal penting yang ditekankan dalam seminar tersebut adalah pemahaman bahwa paparan sinar UV tidak selalu sejalan dengan sensasi panas yang dirasakan tubuh.

Cuaca mendung atau udara yang terasa sejuk tidak serta-merta membuat kulit terbebas dari radiasi ultraviolet. Oleh sebab itu, perlindungan kulit tetap diperlukan, khususnya bagi masyarakat yang menghabiskan banyak waktu di luar ruangan.

Intensitas UV umumnya dapat meningkat pada rentang waktu sekitar pukul 10.00 hingga 15.00, meskipun kondisi aktual bergantung pada lokasi, cuaca, dan faktor lingkungan lainnya.

Bagi petani, pekerja kebun, dan pekerja lapangan, menghindari matahari pada jam-jam tersebut bukan perkara mudah. Tuntutan pekerjaan sering kali membuat mereka harus tetap beraktivitas di bawah terik matahari.

Selain paparan langsung, radiasi UV juga dapat dipantulkan oleh permukaan tertentu di sekitar lingkungan kerja. Kondisi tersebut membuat perlindungan fisik menjadi semakin penting.

Keringat serta kebiasaan menyeka wajah ketika bekerja juga perlu diperhatikan, terutama karena dapat mengurangi perlindungan tabir surya yang telah diaplikasikan pada kulit.

Empat Langkah Perlindungan Kulit : Pakaian Tertutup, Topi, Tempat Teduh dan Sunscreen 

Dalam kegiatan tersebut, peserta diberikan pemahaman mengenai sejumlah langkah sederhana yang dapat diterapkan untuk mengurangi risiko paparan UV dalam kehidupan sehari-hari.

Langkah pertama adalah menggunakan pakaian yang menutupi kulit, terutama bagian tubuh yang sering terpapar matahari. Kedua, mengenakan topi yang dapat melindungi wajah dan bagian kepala. Penggunaan kacamata pelindung UV juga dianjurkan untuk membantu melindungi mata dan area di sekitarnya.

Ketiga, pekerja diimbau memanfaatkan tempat teduh untuk beristirahat apabila kondisi pekerjaan memungkinkan. Keempat, menjaga kecukupan asupan air tetap penting untuk mendukung kesehatan tubuh selama beraktivitas di bawah cuaca panas.

Di samping perlindungan fisik tersebut, penggunaan tabir surya atau sunscreen menjadi bagian penting dari upaya menjaga kesehatan kulit.

Untuk bagian tubuh yang tidak tertutup pakaian, masyarakat disarankan menggunakan tabir surya berspektrum luas (broad-spectrum) dengan SPF minimal 30. Produk tersebut membantu melindungi kulit dari paparan UVA dan UVB.

Tabir surya sebaiknya diaplikasikan sekitar 15–30 menit sebelum beraktivitas di bawah sinar matahari, sesuai petunjuk penggunaan produk. Penggunaan perlu diulang kira-kira setiap dua jam, serta setelah berkeringat banyak, berenang, atau kulit menjadi basah.

Edukasi ini juga menekankan bahwa perlindungan kulit bukan hanya kebutuhan perempuan atau kelompok tertentu. Laki-laki yang bekerja di luar ruangan juga perlu menerapkan kebiasaan yang sama untuk menjaga kesehatan kulitnya.

Waspada Perubahan Kulit! Luka Tak Kunjungan Sembuh Hingga Tahi Lalat Berubah Jangan Diabaikan 

Tidak berhenti pada pencegahan, seminar FK Unri juga membekali peserta dengan pengetahuan untuk mengenali tanda-tanda perubahan kulit yang patut diperhatikan.

Beberapa tanda yang dibahas antara lain luka yang tidak kunjung sembuh, tahi lalat yang mengalami perubahan bentuk, warna atau ukuran, munculnya benjolan baru, bercak yang terus membesar, serta perdarahan spontan pada kulit.

Tanda-tanda tersebut tidak selalu menunjukkan kanker kulit. Namun, perubahan yang menetap, terus berkembang, atau tampak mencurigakan sebaiknya tidak diabaikan.

Masyarakat dianjurkan segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan apabila menemukan perubahan kulit yang tidak biasa. Pemeriksaan sejak dini dapat membantu tenaga kesehatan menentukan penyebab dan langkah penanganan yang sesuai.

Pesan ini menjadi sangat relevan bagi pekerja lapangan yang setiap hari menghadapi paparan matahari, tetapi belum tentu memiliki kebiasaan memeriksa kondisi kulit secara berkala.

Dengan pemahaman yang tepat, masyarakat diharapkan tidak hanya mampu melakukan pencegahan, tetapi juga lebih tanggap terhadap perubahan pada tubuhnya sendiri.

50 Warga Antusias Diskusi Interaktif Jadi Ruang Berbagi Pengetahuan Kesehatan 

Seminar edukasi kesehatan kulit di Desa Balam berlangsung dengan antusiasme peserta. Hal tersebut terlihat dari keaktifan warga mengajukan pertanyaan ketika sesi diskusi dibuka.

Melalui sesi tersebut, peserta memperoleh kesempatan untuk memperdalam materi, mengklarifikasi hal-hal yang belum dipahami, serta berdialog langsung dengan narasumber mengenai persoalan kesehatan kulit yang berkaitan dengan aktivitas sehari-hari.

Interaksi ini menjadi bagian penting dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Informasi kesehatan yang disampaikan tidak hanya diterima secara satu arah, tetapi juga dikaitkan dengan pengalaman dan kebutuhan nyata warga.

Tim FK Unri berharap pendekatan edukasi semacam ini dapat membantu masyarakat membangun kebiasaan yang lebih baik dalam menjaga kesehatan, khususnya bagi kelompok yang memiliki risiko paparan sinar matahari lebih tinggi.

FK UNRI Hadirkan Panduan Praktis, Sunscreen Dibagikan Untuk Dukungan Perlindungan Warga

Sebagai bagian dari upaya memperkuat pemahaman masyarakat, tim pengabdian turut memperkenalkan bahan edukasi berjudul “Sehat di Bawah Matahari: Panduan Praktis Melindungi Diri dan Keluarga dari Bahaya Sinar UV.”

Bahan edukasi yang disusun oleh Kelompok Jabatan Fungsional Dosen (KJFD) Histologi FK Unri tersebut memuat berbagai informasi penting, mulai dari fungsi kulit, jenis dan dampak sinar UV, risiko paparan bagi pekerja lapangan, cara melindungi kulit, hingga tanda-tanda perubahan kulit yang perlu diwaspadai.

Tidak hanya memberikan pengetahuan, tim pengabdian FK Unri juga membagikan tabir surya kepada peserta.

Pembagian tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat mulai menerapkan perlindungan kulit secara langsung, khususnya ketika bekerja atau beraktivitas di bawah sinar matahari.

Kombinasi antara seminar, bahan bacaan edukatif, dan pembagian tabir surya menjadi bentuk pendekatan yang menghubungkan pemahaman kesehatan dengan tindakan pencegahan yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Tim Pengabdian FK UNRI Libatkan Dosen dan Mahasiswa S2 Biomedis 

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dipimpin oleh dr. Inayah, M.Sc.

Tim pelaksana terdiri atas Dr. dr. Huriatul Masdar, M.Sc.; dr. Darmawi, M. Biomed, Ph.D.; dr. Winarto, M.Kes.; dr. Nurfi Pratiwi, M. Biomed; Siti Nurkhasanah, S.Si., M. Biomed; serta Agnes Rica Yosidres, A.Md.

Kegiatan ini juga melibatkan mahasiswa S2 Biomedis FK Unri, yakni dr. Cynthia Isra Mandahuta, dr. Dhea Maulidyastuti, dr. Ferry Anggriawan, dr. Inke Dwi Sandy, dan dr. Zuhriyah Rosa.

Keterlibatan dosen dan mahasiswa tersebut mencerminkan peran perguruan tinggi dalam mengembangkan serta menyebarluaskan ilmu pengetahuan kepada masyarakat. Melalui kegiatan pengabdian, pengetahuan yang diperoleh di lingkungan akademik diharapkan dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas.

Pelaksanaan kegiatan dan penyusunan bahan edukasi ini mendapat dukungan Dana Hibah DIPA Universitas Riau Tahun 2026.

Dari Seminar Menuju Kebiasaan Sehat, FK UNRI Dorong Warga Balam Lebih Peduli Kesehatan Kulit

Kegiatan edukasi kesehatan kulit di Desa Balam bukan sekadar penyampaian informasi mengenai bahaya sinar ultraviolet. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi upaya membangun kesadaran bahwa menjaga kesehatan kulit merupakan bagian penting dari perlindungan kesehatan jangka panjang.

Bagi masyarakat yang bekerja di luar ruangan, perlindungan kulit perlu menjadi bagian dari rutinitas kerja, sebagaimana pentingnya menjaga keselamatan dan kebugaran tubuh.

Mengenakan pakaian pelindung, menggunakan topi dan tabir surya, memanfaatkan tempat teduh, serta memperhatikan perubahan pada kulit merupakan langkah-langkah sederhana yang dapat membantu mengurangi risiko akibat paparan sinar UV.

Melalui kegiatan ini, tim FK Unri berharap pengetahuan yang diperoleh peserta dapat diterapkan secara berkelanjutan dan turut dibagikan kepada anggota keluarga maupun lingkungan sekitar.

Pesan utamanya jelas: bekerja di bawah matahari memang tidak selalu dapat dihindari, tetapi risiko paparan sinar UV dapat dikurangi melalui perlindungan yang tepat dan kebiasaan menjaga kesehatan kulit secara konsisten.

Dengan demikian, edukasi yang dihadirkan FK Unri di Desa Balam diharapkan menjadi langkah awal untuk membangun masyarakat yang lebih sadar kesehatan, lebih peduli terhadap perlindungan diri, dan lebih tanggap dalam mengenali tanda-tanda gangguan kulit sejak dini. (FK-Unri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *