BUBAR KARENA CINTA, BERSATU KARENA REFORMASI : Kisah SOBAT 98 yang Bikin Iri Generasi Tik Tok

Advetorial5 Dilihat

PEKANBARU,Saturealita.com-Dalam khasanah sosiologi, istilah SOBAT yang akrab di telinga orang Sumatera sebagai “Sahabat Dekat” ternyata memiliki dimensi yang lebih dalam dari sekedar sapaan. Ia adalah sebuah social capital atau modal sosial yang terbangun dari sejarah panjang.

Fenomena ini menarik jika dibedah dengan teori Collective Memory (Maurice Halbwachs). Bahwa ingatan kolektif tentang satu penderitaan, satu pergerakan, satu pengajian, bahkan satu periuk nasi, mampu menjadi perekat yang lebih kuat dari sekedar ikatan formal.

Mereka adalah representasi dari Generasi Reformasi 1998, sebuah generasi kritis yang oleh sosiolog sering disebut sebagai Agent of Change Di saat mahasiswa menjadi primadona perubahan, mereka berada di garda depan dengan satu isu REFORMASI.

Mereka adalah para ketua di zamannya

Wanton, SH.,MH.,M.Si (Kopma), Dr. Yusriadi, SE.,MM (Senat), Elfis Presley / Efriyadi, SE (PSB), Dede M. Lutfi, SE (UKM Band), Irhas, SE (Pembina), Budi, SE (Senat), Bang Adie Nur (Jurusan), dan Almarhum Bang Ridwan alias Iwan (UKM Band).

Jika dilihat dari kacamata Teori Kelompok Kecil (Small Group Theory), kelompok ini telah melewati fase forming, storming, norming, performing dan kini berada di fase adjourning yang unik bukan bubar, tapi melanggengkan silaturahmi.

Buktinya sederhana. Saat satu dari mereka berada di Pekanbaru bersama keluarga, sinyal kerinduan itu langsung aktif. Ngopi bareng, tertawa lepas, mencemooh kekonyolan masa lalu. Ini adalah mekanisme stress release dan emotional healing yang sangat alamiah di tengah kepenatan bekerja.

Diskursus mereka pun tidak melulu nostalgia. Isu politik, hukum, ekonomi dibahas dengan perspektif yang matang. Sesekali diselingi joke klasik tentang “sosok anak itu”, sebuah bumbu humor yang dalam psikologi sosial berfungsi sebagai ice breaker untuk mencairkan suasana.

Menariknya, sesuai dengan prinsip Pluralisme Intelektual, pemikiran dan platform mereka boleh berbeda. Ada yang di jalur hukum, bisnis, akademisi, hingga politik. Namun perbedaan itu tidak memecah, justru memperkaya. Mereka menyatu dalam waktu yang sama, dengan satu kesadaran: pernah berjuang bersama.

Inilah potret SOBAT sejati. Mereka adalah pemikir, pelopor, prakarsa, dan pejuang di masanya. Dan pelajaran berharganya adalah loyalitas yang diuji zaman jauh lebih mahal dari sekedar jabatan.

Semoga langgeng sampai maut memisahkan. Karena di era yang serba transaksional ini, persahabatan yang tulus seperti inilah yang 3menjadi barang langka. ( One)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *