PEKANBARU,Saturealita.com-Gaung kemeriahan peringatan Hari Kebudayaan dan Festival Budaya yang dihadiri Menteri Kebudayaan Republik Indonesia mungkin telah berlalu. Namun, ada satu pemandangan yang masih membekas dan menyisakan makna mendalam tentang persatuan, kebersamaan, serta semangat membangun Provinsi Riau.
Di tengah semaraknya penampilan beragam kesenian dan kekayaan budaya Nusantara, perhatian tertuju pada sebuah spanduk bertuliskan “WONG RIAU” yang berdiri di tengah barisan berbagai paguyuban masyarakat Jawa yang ada di Provinsi Riau.
Pemandangan tersebut bukan sekadar kehadiran sebuah nama atau identitas kelompok. Lebih dari itu, Wong Riau menghadirkan pesan tentang kesebatinan, yakni ikatan batin, rasa memiliki, dan persaudaraan masyarakat Jawa yang lahir, tumbuh, hidup, serta berkarya di Bumi Lancang Kuning.
Wong Riau menjadi gambaran bahwa identitas budaya tidak harus menjadi sekat pemisah. Justru, keberagaman latar belakang dan asal-usul dapat menjadi kekuatan untuk bersama-sama membangun daerah yang telah menjadi rumah bersama.
Bagi masyarakat Jawa yang telah lama menetap di Riau, tanah ini bukan sekadar tempat mencari kehidupan. Riau telah menjadi tanah kelahiran generasi penerus, tempat mengabdi, berkarya, dan menanamkan harapan untuk masa depan.
Karena itu, kehadiran Wong Riau dalam festival tersebut patut diapresiasi. Tidak hanya tampil membawa identitas kebudayaan, tetapi juga menunjukkan kepedulian nyata terhadap lingkungan kegiatan, termasuk ikut menjaga kebersihan selama berlangsungnya festival.
Hal sederhana tersebut sesungguhnya menyampaikan pesan besar bahwa mencintai budaya harus berjalan seiring dengan kepedulian terhadap lingkungan dan tanggung jawab sosial.
Secara pribadi, apresiasi dan ucapan terima kasih disampaikan kepada seluruh kawan-kawan Wong Riau yang telah mengambil bagian dalam menyukseskan kegiatan tersebut. Secara khusus, penghargaan juga diberikan kepada Ananda Riyono yang telah memprakarsai dan menggerakkan semangat kebersamaan tersebut.
“Diyakini, ke depan Wong Riau dapat berkembang menjadi sebuah simbol kesebatinan dan persaudaraan, tidak ditinggikan Seranting dan tidak dimajukan selangkah”, ungkap Datuk
Ditempat terpisah, Riyono Gede Trisoko, menanggapi, momen itu hanya sebagai silaturahmi dan menjaga Keakraban saja dalam mendukung Progam LAMR. ***






