KARHUTLA MENGGANAS! Kodam XIX/Tuanku Tambusai Berjibaku

Jinakkan 12 Hektare Lahan di Bengkalis dan Meranti

Militer10 Dilihat

BENGKALIS,saturealita.com-Ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) kembali menjadi perhatian serius di wilayah Riau.

Kodam XIX/Tuanku Tambusai melalui jajaran Kodim 0303/Bengkalis bersama tim gabungan terus berjibaku melakukan pemadaman, penyisiran dan pendinginan terhadap lahan yang terbakar di Kabupaten Bengkalis dan Kabupaten Kepulauan Meranti.
Pada Minggu (13/9/2026), sekitar 12 hektare lahan menjadi sasaran penanganan di dua wilayah tersebut.

Kondisi lahan gambut yang kering, cuaca panas, keterbatasan sumber air serta tiupan angin menjadi tantangan tersendiri bagi petugas di lapangan.
Di Desa Teluk Lancar, Kecamatan Bantan, Kabupaten Bengkalis, tim gabungan melakukan penyisiran pada area terdampak sekitar tujuh hektare. Dari luasan tersebut, sekitar lima hektare telah berhasil ditangani, sementara dua hektare lainnya masih menjadi fokus pendinginan dan pemantauan.

Petugas tidak hanya melakukan pemadaman terhadap titik api, tetapi juga menyisir kawasan yang masih mengeluarkan asap. Untuk menjangkau sejumlah lokasi yang sulit diakses, tim harus membuka jalur darurat dengan melakukan penebasan vegetasi.

Langkah tersebut dilakukan agar mobilisasi personel dan peralatan menuju titik kebakaran dapat berlangsung lebih efektif. Area yang masih berasap juga disekat untuk mencegah potensi penjalaran api ke kawasan lainnya.

Bukan hanya Bengkalis, kepulan asap juga masih menjadi ancaman di Kepulauan Meranti.

Penanganan Karhutla berlangsung di Desa Renak Dungun, Kecamatan Pulau Merbau, Kabupaten Kepulauan Meranti. Kebakaran yang terjadi pada kawasan semak belukar berdampak pada lahan sekitar lima hektare.

Tim gabungan terus melakukan pemadaman sekaligus pendinginan. Sejumlah titik masih mengeluarkan asap sehingga proses penanganan tidak berhenti setelah api terlihat padam.

Kondisi minimnya sumber air menjadi salah satu kendala utama. Untuk mengantisipasi persoalan tersebut, tim melakukan upaya pembuatan embung sebagai sumber air guna mendukung proses pemadaman dan pendinginan.

Gambut Kering, Api Bisa Kembali Muncul

Karakteristik lahan gambut membuat penanganan Karhutla membutuhkan kewaspadaan ekstra. Api yang secara kasatmata terlihat telah padam belum tentu sepenuhnya aman karena bara dapat bertahan di bawah permukaan dan kembali memunculkan asap maupun titik api.

Karena itu, pendinginan menjadi bagian penting dalam operasi penanggulangan. Tim terus melakukan penyisiran untuk memastikan tidak terdapat bara maupun titik panas yang berpotensi memicu kebakaran kembali.

“Fokus kami memastikan titik asap benar-benar tertangani dan mencegah api kembali muncul maupun meluas. Kondisi gambut kering dan keterbatasan air menjadi tantangan, namun penanganan di lapangan terus dilakukan bersama seluruh unsur terkait,” ujar personel Kodim 0303/Bengkalis di lokasi.

Operasi Belum Berakhir

Penanganan Karhutla di kedua wilayah tersebut akan terus dilanjutkan sampai kondisi lahan dinyatakan aman. Penyisiran dan pendinginan dilakukan secara berkelanjutan sebagai langkah antisipasi terhadap munculnya kembali titik api.

Kodam XIX/Tuanku Tambusai bersama jajaran kewilayahan dan unsur terkait terus memperkuat koordinasi untuk mencegah kebakaran meluas. Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari langkah cepat menghadapi ancaman Karhutla yang dapat mengganggu lingkungan, kesehatan masyarakat dan aktivitas warga.

Dengan total sekitar 12 hektare lahan yang menjadi sasaran penanganan di Bengkalis dan Meranti, operasi pemadaman kini memasuki fase krusial: bukan sekadar memadamkan api, tetapi memastikan bara terakhir benar-benar mati. ***

rilis Pendam XIX/ Tuanku Tambusai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *