FKJK Riau ke-7 “Bijak di Tanah Melayu”

Merawat Budaya Jawa dan Memperkuat Harmoni Kebudayaan Riau

Budaya33 Dilihat

PEKANBARU,saturealita.com-Semangat melestarikan seni, budaya dan tradisi kembali menggema di Bumi Lancang Kuning. Forum Komunikasi Jaran dan Kuda Lumping (FKJK) Provinsi Riau memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-7 tahun 2026 dengan mengusung semangat “FKJK Bijak di Tanah Melayu”.

Peringatan yang berlangsung khidmat tersebut dihadiri sejumlah tokoh penting, di antaranya Ketua Majelis Kerapatan Adat Lembaga Adat Melayu Riau (MKA LAMR) Datuk Seri H.R. Marjohan Yusuf, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Riau H. Tekad Perbatas Setia Dewa, S.T., M.T., Kepala Dinas Pariwisata Kota Pekanbaru H. Akmal Khairi, S.Th.I., M.H., Ketua LAMR Kota Pekanbaru Datuk Seri Muspidauan, serta sejumlah unsur ketua paguyuban Jawa Riau.

Momentum HUT ke-7 itu tidak hanya menjadi perayaan organisasi, tetapi juga menjadi ruang refleksi bagi FKJK Riau untuk terus menjaga keberadaan seni jaran dan kuda lumping sebagai bagian dari kekayaan budaya yang hidup di tengah masyarakat.

Penasehat FKJK Riau, Riyono Gede Trisoko, didampingi Ketua FKJK Riau Sular, mengatakan perjalanan tujuh tahun organisasi menjadi fase penting untuk terus belajar dan memperkuat tata kelola organisasi.

“Di usia yang ibaratnya masih menjejaki pelajaran Sekolah Dasar (SD), tentu kami banyak belajar dan tunjuk ajar bagaimana menjalankan roda organisasi yang baik. Dari dasar ‘FKJK bijak di Tanah Melayu’, menjadi pecut untuk terus bertahan dan bangkit dalam inovasi kreatif tentang nilai kebudayaan yang penuh makna dan arti yang luas,” ujar Riyono, Kamis (20/9/2026).

Menurutnya, kekuatan sebuah kebudayaan terletak pada keberlanjutan nilai dan adanya generasi penerus yang bersedia merawat serta mengembangkannya.

Karena itu, FKJK Riau berkomitmen menjadikan seni dan budaya bukan sekadar pertunjukan, tetapi juga sebagai media edukasi dan ruang mempererat hubungan antarkomunitas masyarakat.

Sebelum rangkaian kegiatan dimulai, terlebih dahulu dilaksanakan Hikayat Pemelihara Diri atau doa Tolak Bala. Tradisi tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga nilai-nilai kultural dan spiritual dalam setiap kegiatan FKJK Riau.

Wali Kota Pekanbaru Sampaikan Apresiasi

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kota Pekanbaru H. Akmal Khairi, S.Th.I., M.H., menyampaikan bahwa Wali Kota Pekanbaru tidak dapat hadir secara langsung dalam kegiatan tersebut.

Namun, melalui arahan yang disampaikannya, Wali Kota Pekanbaru memberikan ucapan selamat atas HUT FKJK Riau ke-7 sekaligus berharap organisasi tersebut terus berkembang.

“Hikayat dalam kegiatan ini, saya mengajak kepada seluruh komponen masyarakat Jawa Riau yang tergabung dalam FKJK Riau, teruslah berkarya untuk mempertahankan nilai kebudayaan hingga untuk para penerus,” kata Akmal saat membacakan arahan Wali Kota Pekanbaru.

Pesan tersebut sekaligus menegaskan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam menjaga kesenian tradisional agar tetap memiliki ruang di tengah perkembangan zaman.

MKA LAMR: Riau Terbuka untuk Semua Kebudayaan

Ketua MKA LAMR Datuk Seri H.R. Marjohan Yusuf menegaskan bahwa masyarakat Riau senantiasa membuka diri terhadap keberagaman masyarakat yang hidup dan berkembang di Riau.

Menurutnya, masyarakat Jawa, Batak, Minang dan berbagai kelompok masyarakat lainnya merupakan bagian dari dinamika sosial budaya Riau yang dapat saling berkolaborasi.

“Kami senantiasa memberikan hormat kepada seluruh komponen masyarakat di luar Melayu untuk sama-sama kita menyatu dalam satu kesatuan. Apalagi soal nilai kebudayaan, harus dipertahankan hingga ke anak cucu,” terangnya.

Pernyataan tersebut menjadi pesan penting bahwa pelestarian kebudayaan dapat berjalan melalui kolaborasi antarkomunitas dengan tetap menghormati identitas budaya masing-masing.

FKJK Berpeluang Masuk Kalender Event Pariwisata

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Riau H. Tekad Perbatas Setia Dewa, S.T., M.T., turut memberikan apresiasi terhadap perjalanan FKJK Riau yang telah memasuki usia tujuh tahun.

Ia berharap keberadaan FKJK Riau ke depan dapat memberikan kontribusi nyata terhadap pengembangan seni dan kebudayaan sekaligus mendukung sektor pariwisata di Provinsi Riau.

Menurutnya, kelompok-kelompok seni dan paguyuban masyarakat memiliki potensi untuk menjadi bagian dari berbagai kegiatan pariwisata daerah.

“Insyaallah ke depannya, kita mencoba untuk memasukkan kalender event kegiatan seni dan kebudayaan,” ungkapnya.

Dengan demikian, keberadaan FKJK Riau diharapkan tidak hanya menjadi wadah komunikasi dan pelestarian seni jaran serta kuda lumping, tetapi juga dapat berkembang menjadi salah satu bagian dari ekosistem pariwisata dan kebudayaan Riau.

HUT ke-7 FKJK Riau akhirnya menjadi momentum untuk memperkuat pesan “Bijak di Tanah Melayu”menjaga akar budaya, menghormati adat setempat, merawat keberagaman, serta membuka ruang kolaborasi agar seni tradisi tetap hidup dan dikenal oleh generasi mendatang.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *