Dalam Perhelatan Kenduri Akbar Melayu Nusantara 2026
Pekanbaru,saturealita.com/-Gemuruh semangat Melayu menggema dari Bumi Lancang Kuning. Ribuan masyarakat dari berbagai penjuru Nusantara berkumpul dalam sebuah momentum kebudayaan yang sarat makna melalui Kenduri Akbar Melayu Nusantara 2026 yang digelar di halaman Balai Adat Melayu Riau, Pekanbaru.
Bukan sekadar perhelatan budaya, kegiatan tersebut menjadi panggung besar untuk meneguhkan kembali identitas, persatuan, marwah, serta kontribusi masyarakat Melayu dalam perjalanan membangun Indonesia yang maju, berdikari, dan bermarwah.
Salah satu momen paling monumental dalam kegiatan tersebut adalah pemecahan Rekor MURI pemakaian tanjak secara massal oleh 10.080 peserta. Ribuan tanjak yang dikenakan secara serentak menjadi simbol visual yang kuat tentang kokohnya akar budaya Melayu di tengah derasnya arus modernisasi dan globalisasi.
Dalam kesempatan tersebut, Dr. H. Rusli Effendi, S.Pd.I., SE., M.Si., mewakili keluarga besar Persatuan Masyarakat Riau Indonesia (PMRI), menyampaikan pesan kebudayaan sekaligus ajakan kepada seluruh masyarakat Melayu Nusantara untuk menjadikan adat, agama, dan nilai-nilai luhur sebagai fondasi dalam membangun masa depan bangsa.
Mengawali sambutannya, Rusli Effendi menyampaikan penghormatan kepada sejumlah tokoh dan tamu kehormatan yang hadir, di antaranya Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Dr. H. Fadli Zon, M.Sc., Plt. Gubernur Riau S.F. Hariyanto (yang diwakilkan) beserta jajaran Forkopimda, Ketua Umum MKA LAMR Provinsi Riau Datuk Seri H. Raja Marjohan Yusuf, Ketua Umum DPH LAMR Provinsi Riau Datuk Seri H. Taufik Ikram Jamil, serta jajaran pimpinan organisasi Melayu dan panitia pelaksana.
Ia juga memberikan penghormatan kepada Panglima Utama LMB Nusantara Datuk Besar Muhammad Uzer, Panglima Barisan Muda LMB Nusantara Indra Gunawan, S.E., Ketua Umum Laskar RMRB Akel Pernando, S.H., M.H., Ketua DPW Riau Laskar RMRB Putra Rezeky, S.Pd.I., serta seluruh panitia yang telah bekerja mewujudkan perhelatan besar tersebut.
Raga di Rantau, Jiwa Tetap di Riau
Di hadapan lautan manusia yang memadati halaman Balai Adat Melayu Riau, Rusli Effendi menegaskan bahwa pemakaian tanjak secara massal bukan semata-mata pencapaian rekor.
Menurutnya, angka 10.080 peserta justru menggambarkan besarnya ikatan emosional masyarakat Riau terhadap tanah kelahiran dan identitas Melayu.
“Raga di Rantau, Jiwa di Riau,” menjadi pesan kuat yang menggambarkan bagaimana masyarakat Riau yang telah merantau ke berbagai daerah tetap membawa identitas dan nilai-nilai Melayu dalam kehidupan mereka.
Menurut Rusli, sejauh apa pun masyarakat Riau melangkah, setinggi apa pun jabatan yang diraih, serta seluas apa pun dunia yang dijelajahi, akar budaya tetap menjadi kompas batin yang menghubungkan mereka dengan tanah Melayu.
Nilai tersebut, lanjutnya, merupakan bagian dari falsafah Melayu yang menjunjung tinggi adat dan agama.
Adat bersendikan syarak, syarak bersendikan Kitabullah, menjadi prinsip yang diharapkan tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Melayu Tidak Anti Kemajuan
Kenduri Akbar Melayu Nusantara 2026 juga membawa pesan strategis melalui tema “Dengan Semangat Melayu Nusantara, Kita Bangun Indonesia yang Maju, Berdikari, dan Bermarwah.”
Tema tersebut dinilai relevan dengan tantangan Indonesia di tengah perubahan dunia yang begitu cepat.
Rusli Effendi menegaskan bahwa kemajuan bangsa tidak boleh membuat masyarakat tercerabut dari akar budayanya. Melayu, menurutnya, tidak pernah menutup diri terhadap perkembangan teknologi, modernisasi maupun dinamika global.
Sebaliknya, kemajuan zaman harus dimanfaatkan sebagai instrumen untuk memperkuat peradaban, sementara adat dan agama tetap menjadi pengendali moral.
Dalam konteks tersebut, peran strategis Melayu Nusantara diharapkan bukan hanya menjadi penjaga tradisi, tetapi juga mampu tampil sebagai bagian dari kekuatan yang mendorong kemajuan Indonesia.
“Teknologi sebagai alat, tetapi adat dan agama sebagai kendali,” menjadi pesan penting yang diarahkan kepada generasi muda Melayu Nusantara.
Generasi Muda Jadi Penentu Masa Depan
Rusli Effendi secara khusus menitipkan pesan kepada para pemuda, laskar, dan generasi milenial Melayu yang hadir dalam kegiatan tersebut.
Menurutnya, generasi muda merupakan pemegang tongkat estafet peradaban. Di tengah derasnya globalisasi, generasi muda harus mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri.
Ia mengingatkan agar anak-anak Melayu tidak menjadi asing di negeri sendiri.
Pesan tersebut kemudian diperkuat melalui petuah dan pantun Melayu:
“Anak ikan memakan umpan,
Kail di bawah titi batang,
Adat dijunjung jangan dilupakan,
Bekal hidup di masa datang.”
Petuah itu menggambarkan bahwa adat bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan bekal moral untuk menghadapi masa depan.
Rusli juga menyampaikan pesan tentang pentingnya budi pekerti sebagai identitas manusia Melayu.
“Elok arak karena gubahan,
Elok perahu karena kemudi,
Elok bangsa karena budiman,
Elok diri karena pekerti.”
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kemajuan suatu bangsa tidak hanya diukur dari teknologi, ekonomi, atau kekuatan politik, tetapi juga dari kualitas karakter dan budi pekerti masyarakatnya.
Dari Riau untuk Indonesia
Di penghujung sambutannya, Rusli Effendi atas nama PMRI memberikan apresiasi kepada Barisan Muda Laskar Melayu Bijuangsa Nusantara, Laskar RMRB, LAMR Provinsi Riau, seluruh panitia, serta masyarakat Riau dari berbagai penjuru Nusantara yang telah hadir dalam Kenduri Akbar Melayu Nusantara 2026.
Ia berharap momentum tersebut tidak berhenti sebagai seremoni budaya, tetapi menjadi titik tolak untuk memperkuat silaturahmi, persatuan, dan kontribusi masyarakat Melayu bagi bangsa.
Kenduri Akbar Melayu Nusantara 2026 akhirnya bukan hanya menghadirkan ribuan tanjak dalam satu hamparan, tetapi juga menghadirkan sebuah pesan besar: identitas budaya dapat berjalan beriringan dengan kemajuan bangsa.
Dari tanah Melayu Riau, semangat itu kembali ditegaskan, bahwa merantau boleh sejauh mana pun, mengikuti perkembangan zaman adalah keniscayaan, tetapi jati diri dan marwah tidak boleh hilang.
Raga boleh di rantau, tetapi jiwa tetap di Riau
Dan dari Bumi Lancang Kuning, semangat Melayu Nusantara kembali digaungkan untuk Indonesia yang maju, berdikari, bersatu, dan bermarwah. ***
