PEKANBARU, Saturealita.com-Jika selama 40 tahun kita percaya swasembada butuh 5 sampai 10 tahun, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mematahkannya hanya dalam 365 hari. Hoaks atau fakta? Data berbicara, ini fakta ilmiah.
Siapa Sosoknya?
Andi Amran Sulaiman bukan politisi. Ia lahir di Bone, Sulawesi Selatan, 27 April 1968, anak ketiga dari 12 bersaudara. Lulusan S1, S2, S3 Pertanian Universitas Hasanuddin dengan predikat cumlaude.
Sebelum jadi menteri, ia adalah founder Tiran Group dengan 34 anak perusahaan. Dari penjual racun tikus, ia jadi pengusaha perkebunan dan tambang dengan kekayaan di atas Rp1 Triliun, menjadikannya menteri terkaya di Kabinet Merah Putih.
Presiden Prabowo Subianto dalam dialog di Hambalang, 6 September 2026 lalu, mengakuinya. “Saya tadinya tidak kenal dia, dia bukan partai saya. Tapi saya lihat pidatonya, ini cocok. Dari target 4 tahun, dia bisa hasilkan swasembada 1 tahun. Ini luar biasa.” kata Presiden saat dialong belum lama ini.
Rumus Ilmiah yang dipakai
Keberhasilan Amran bukan sulap, tapi ada formula ilmiah yang mudah dicerna
Memotong Rantai Pupuk, masalah utama petani adalah pupuk langka karena rantai distribusi panjang dan banyak mafia. Amran memangkas 20 regulasi menjadi 1 regulasi. Distributor dihapus, pupuk langsung dari pabrik ke petani melalui koperasi. Hasilnya harga pupuk turun 20% tanpa menambah APBN, negara malah hemat Rp14 Triliun.
Mendatangkan Air, Bukan Menunggu Hujan Indonesia punya 5,7 juta hektar lahan tadah hujan yang hanya bisa tanam 1 kali setahun. Amran membalik logika dengan program pompanisasi 80.000 pompa dan optimalisasi lahan bersama TNI. Lahan yang tidur 7 bulan kini bisa tanam 3 kali. Indeks Pertanaman naik dari 1,5 menjadi 2,8. Inilah kunci kenaikan produksi.
Membuat petani untung logika paling dasar, jika petani rugi, ia tidak akan menanam. Amran menjaga harga gabah di Rp6.500 per kilogram. Hasilnya Nilai Tukar Petani (NTP) tembus 125,35, tertinggi dalam 34 tahun terakhir.
Validasi Data, Bukan Klaim Sepihak, Apakah swasembada ini hoaks? Mari cek data independen
BPS, produksi beras 2025 mencapai 34,7 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah Indonesia. FAO dan USDA FAO mencatat 35 juta ton, USDA 34,6 juta ton. Selaras dengan BPS, artinya bukan data karangan.
Stok Bulog 5,17 juta ton per Juli 2026. Tertinggi sejak merdeka, mengalahkan rekor era Presiden Soeharto sebesar 2,6 juta ton pada 1984.
Dampak Global, saat Indonesia setop impor, harga beras dunia turun drastis dari 660 Dollar AS menjadi 340 Dollar AS per ton.
Data triple-check ini membuktikan swasembada ini fakta, bukan hoaks. Bahkan 6 Menteri Pertanian negara maju termasuk Jepang datang belajar ke Indonesia.
Menuju Lumbung Dunia dan Price Maker
Setelah swasembada, apa selanjutnya? Indonesia sebagai negara agraris harus naik kelas menjadi lumbung pangan dunia dan penentu harga dunia (price maker).
Selama ini Thailand dan Vietnam yang menentukan harga. Strategi Amran untuk merebut posisi itu ada tiga: menjaga stok nasional di atas 5 juta ton secara konsisten, membangun 30 pabrik pakan senilai Rp20 Triliun agar tidak impor jagung, dan mencapai swasembada 8 komoditas sekaligus dari beras, jagung, bawang, cabai, hingga ayam dan telur.
Jika konsisten, Indonesia tidak lagi jadi penerima harga, tapi penentu harga.
BAHU Prabowo DPD Riau Dukung Penuh
Ketua Badan Advokasi Hukum (BAHU) Prabowo DPD Riau, Wanton, S.H., M.H.,M.Si., menyatakan dukungan penuh terhadap program tersebut.
“Pak Amran adalah contoh menteri yang bekerja nyata. Tidak banyak bicara di podium, tapi sidak langsung ke sawah, dekat dengan petani, dan beri solusi. Inilah yang dibutuhkan bangsa agraris. Teorinya ilmiah tapi membumi,” tegas Wanton di Pekanbaru.
Menurutnya, langkah tegas Presiden Prabowo mengurangi transfer DBH ke daerah yang tidak produktif sejalan dengan semangat swasembada ini. Uang negara harus untuk petani, bukan habis di APBD yang tidak tepat sasaran.
“BAHU Prabowo DPD Riau siap kawal. Jangan ada lagi mafia pupuk dan mafia beras di Riau. Posko Pengaduan kami di Jl. Rajawali Sakti No.05 Pekanbaru terbuka 24 jam untuk petani,” tutupnya.***






