PEKANBARU, Saturealita.com-Inovasi batik berbasis potensi lokal terus didorong untuk memperkuat kreativitas perajin sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas. Kali ini, Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Bekasi, Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia (Kemenaker RI), berkolaborasi dengan Rumah Batik Seroja Provinsi Riau menggelar Workshop dan Praktik Membatik Motif Ariwu Berbasis Lilin Sawit, Selasa (20/10/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Rumah Batik Seroja, Jalan Parit Indah, Pekanbaru, tersebut dibuka langsung Kepala BBPVP Bekasi Kemenaker RI, Yose Rizal, S.TP., M.M. ini, melibatkan sekitar 16 peserta terdiri dari kalangan perajin batik industri rumahan (home industry) di Kota Pekanbaru.
Kehadiran workshop ini menjadi langkah strategis dalam memperkaya keterampilan, memperluas wawasan, serta mendorong lahirnya inovasi produk batik yang memiliki karakter dan identitas daerah. Penggunaan lilin sawit dalam praktik membatik juga menjadi bagian dari upaya mengeksplorasi alternatif bahan untuk pengembangan kreativitas para perajin.
Sejumlah pejabat dan pemangku kepentingan turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Kepala BBPVP Bekasi Kemenaker RI, Yose Rizal, S.TP., M.M Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Diskop UKM) Kota Pekanbaru, Dr. H. Idrus, S.Ag., M.Ag. Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Riau, Kristanto Junaidi, S.S., M.M., serta Pimpinan Rumah Batik Seroja, Nengsih.
Yose Rizal: Kreativitas Perajin Harus Menjadi Kekuatan Ekonomi Daerah
Dalam sambutannya sekaligus membuka kegiatan, Yose Rizal mengapresiasi langkah Rumah Batik Seroja yang dinilainya mampu menangkap peluang pengembangan kreativitas perajin batik di Kota Pekanbaru.
Menurutnya, kegiatan pelatihan dan praktik seperti ini merupakan kesempatan berharga bagi para perajin untuk meningkatkan kemampuan sekaligus melahirkan karya-karya inovatif yang dapat menjadi identitas dan ikon daerah.
“Kegiatan ini merupakan peluang besar yang mesti dialokasikan dengan tujuan pengembangan kreativitas para perajin batik dalam memperkaya inovasi karya sebagai ajang ikon daerah itu sendiri,” ujar Yose Rizal.
Putra asli Riau asal Kabupaten Siak tersebut juga berharap kegiatan serupa dapat terus dikembangkan secara berkelanjutan. Dengan dukungan pelatihan dan inovasi, produk batik lokal diharapkan tidak hanya mampu bersaing di pasar domestik, tetapi juga memiliki kesempatan menembus pasar internasional.
Baginya, pengembangan kreativitas perajin perlu disambut dengan optimisme. Sebab, potensi kerajinan batik tidak sebatas pada produk budaya, tetapi juga dapat menjadi bagian dari penguatan ekonomi kreatif dan peningkatan produktivitas masyarakat.
Diskop UKM Pekanbaru Siap Dorong Pengembangan Perajin
Pada kesempatan yang sama, Kepala Diskop UKM Kota Pekanbaru, Idrus, menyatakan bahwa pemerintah pada prinsipnya akan terus mendukung dan mendorong kegiatan workshop yang memberikan manfaat nyata bagi pelaku usaha kecil dan menengah.
Ia menilai, upaya strategis dalam meningkatkan kemampuan perajin perlu memperoleh dukungan positif dari pemerintah karena berpotensi memberikan manfaat ekonomi yang luas, mulai dari peningkatan kualitas produk hingga terbukanya peluang usaha dan pasar baru.
“Upaya-upaya strategis perlu mendapat sokongan positif dari pemerintah. Sebab, keuntungannya bagi pemerintah sangat besar,” ungkap Idrus.
Ia juga memberikan motivasi kepada seluruh peserta agar mengikuti setiap tahapan workshop dengan sungguh-sungguh, sehingga ilmu dan keterampilan yang diperoleh dapat diterapkan dalam proses produksi sehari-hari.
Batik Khas Riau, Peluang Inovasi dan Penguatan Identitas Lokal
Workshop dan praktek membatik motif berbasis lilin sawit ini diharapkan menjadi ruang pembelajaran sekaligus pengembangan kreativitas bagi para perajin batik rumahan di Pekanbaru.
Melalui kegiatan tersebut, para peserta memperoleh kesempatan untuk mendalami praktek membatik dengan pendekatan inovatif, sekaligus memperkaya kemampuan dalam menghasilkan produk yang memiliki nilai tambah.
Kolaborasi antara BBPVP Bekasi Kemenaker RI, Rumah Batik Seroja, pemerintah daerah, dan unsur pelestarian kebudayaan juga memperlihatkan pentingnya sinergi lintas sektor dalam membangun ekosistem industri kreatif yang berkelanjutan.
Ke depan, pengembangan motif batik berbasis lilin sawit diharapkan dapat menjadi salah satu jalan untuk memperkuat daya saing perajin, memperluas pemasaran produk, serta memperkenalkan kreativitas batik Riau kepada masyarakat yang lebih luas.
Dengan demikian, workshop ini bukan sekadar agenda pelatihan, melainkan juga peluang untuk mendorong lahirnya inovasi, memperkuat identitas lokal, dan menjadikan perajin batik sebagai bagian penting dari pertumbuhan ekonomi kreatif Kota Pekanbaru. ***







