DARI TANAH MELAYU, CAHAYA PERADABAN KEMBALI DINYALAKAN!

Nasional1 Dilihat
Buku Rusli Effendi Guncang Kesadaran: Indonesia Bukan Krisis Pembangunan, Tapi Krisis Peradaban

Pekanbaru,saturealita.com/-Riau kembali menyuarakan sebuah pesan besar tentang masa depan bangsa. Bukan sekadar melalui pidato atau forum diskusi, tetapi lewat sebuah karya yang mengajak masyarakat menengok kembali akar jati diri Melayu-Islam sebagai kekuatan peradaban.

Buku “Menyalakan Kembali Cahaya Melayu-Islam dari Riau” karya Dr. Rusli Effendi hadir membawa kegelisahan sekaligus gagasan tentang bagaimana pembangunan bangsa seharusnya tidak hanya mengejar kemajuan fisik, ekonomi dan teknologi, tetapi juga menjaga adab, karakter, spiritualitas dan nilai-nilai kemanusiaan.

Gagasan tersebut terasa menghentak ketika Rusli Effendi mengingatkan bahwa persoalan terbesar bangsa hari ini bukan semata-mata kurangnya pembangunan.

“Kita tidak sedang kekurangan gedung pencakar langit atau infrastruktur fisik. Tantangan terbesar kita hari ini bukan krisis pembangunan, melainkan krisis peradaban,” demikian pesan kuat yang menjadi salah satu napas utama pemikirannya.

Kalimat tersebut menjadi semacam alarm bagi zaman. Sebab, pembangunan yang hanya diukur dari gedung yang menjulang, jalan yang terbentang, pertumbuhan ekonomi dan kecanggihan teknologi belum tentu melahirkan manusia yang beradab.

Bagi Rusli Effendi, bangsa dapat kehilangan arah ketika pembangunan berjalan tanpa kompas moral. Kekayaan alam dapat habis, teknologi dapat berubah, ekonomi dapat naik dan turun, tetapi ketika adab, karakter dan nilai spiritual tercerabut dari kehidupan, maka yang dipertaruhkan adalah masa depan peradaban itu sendiri.

MELAYU BUKAN SEKADAR IDENTITAS, TETAPI PERADABAN

Buku ini juga menawarkan cara pandang yang lebih luas terhadap makna Melayu.

Melayu tidak ditempatkan sebatas identitas etnis, wilayah maupun garis keturunan. Melayu dipandang sebagai sistem nilai dan peradaban yang memiliki akar kuat pada keislaman, kesantunan, keterbukaan, kecintaan terhadap ilmu pengetahuan dan penghormatan terhadap martabat manusia.

Dalam perspektif tersebut, menjadi Melayu bukan hanya persoalan siapa yang lahir di tanah Melayu, tetapi juga bagaimana nilai-nilai Melayu diwujudkan dalam kehidupan.

Melayu harus menjadi cahaya nilai, bukan sekadar nama identitas.

Di tengah derasnya arus globalisasi dan perubahan teknologi, gagasan ini menjadi semakin relevan. Sebab kemajuan tanpa nilai dapat kehilangan arah, sementara teknologi tanpa kebijaksanaan hanya akan menjadi alat tanpa tujuan.

KEMAJUAN TAK BOLEH KEHILANGAN JIWA

Rusli Effendi mengingatkan bahwa teknologi hanyalah mesin dan ekonomi hanyalah alat. Keduanya membutuhkan kompas agar kemajuan tidak menjauh dari tujuan utama pembangunan manusia.

Kompas itu adalah budaya dan agama.

Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan sejatinya bukan hanya tentang membangun kota, tetapi juga membangun manusia. Bukan hanya menciptakan infrastruktur, tetapi menciptakan generasi yang memiliki integritas, ilmu, adab dan tanggung jawab sosial.

Dari sanalah buku “Menyalakan Kembali Cahaya Melayu-Islam dari Riau” menemukan relevansinya.

Buku ini menjadi ajakan untuk berhenti sejenak di tengah derasnya laju zaman, kemudian bertanya: Untuk apa bangsa ini membangun jika manusia di dalamnya kehilangan arah?

DARI PESISIR ROKAN HILIR MENUJU GAGASAN PERADABAN

Pemikiran Rusli Effendi tidak lahir secara tiba-tiba. Perjalanan panjangnya di dunia pendidikan, organisasi kemasyarakatan, dakwah, politik dan kehidupan kebangsaan turut membentuk perspektifnya mengenai manusia dan peradaban.

Lahir di Pasir Limau Kapas, pesisir Rokan Hilir, Rusli tumbuh dalam lingkungan yang lekat dengan tradisi Melayu dan pendidikan Islam.

Ia mengawali perjalanan intelektualnya sebagai pendidik. Pengalaman mengajar di madrasah dan sekolah-sekolah Islam di Bagansiapiapi dan Pekanbaru menjadi bagian penting dalam membentuk keyakinannya bahwa pendidikan bukan sekadar memindahkan ilmu dari guru kepada murid.

Pendidikan adalah proses menanam benih peradaban.

Benih tersebut mungkin tidak langsung terlihat hasilnya. Namun, ketika dirawat dengan ilmu, agama dan keteladanan, ia dapat tumbuh menjadi generasi yang mampu menentukan arah bangsanya.

RIAU DAN TUGAS MENYALAKAN KEMBALI CAHAYA

Peluncuran buku ini sekaligus membawa pesan simbolik bagi Riau sebagai salah satu pusat kebudayaan Melayu.

Tanah Melayu tidak boleh hanya menjadi museum sejarah. Nilai-nilai yang diwariskan para pendahulu harus mampu menjawab tantangan zaman.

Karena itu, “Menyalakan Kembali Cahaya Melayu-Islam dari Riau” bukan semata-mata berbicara tentang masa lalu. Buku ini justru mengajak melihat masa depan.

Masa depan ketika identitas Melayu tidak berhenti pada simbol, pakaian, bahasa atau seremoni, tetapi hidup dalam cara berpikir, cara bersikap dan cara membangun kehidupan bersama.

Dari Riau, sebuah pesan kembali dikumandangkan: peradaban tidak dibangun hanya dengan beton, teknologi dan angka pertumbuhan. Peradaban dibangun dengan manusia yang memiliki ilmu, iman, adab dan karakter.

Dan ketika dunia semakin terang oleh teknologi, barangkali yang paling dibutuhkan manusia justru adalah cahaya dari dalam dirinya sendiri.

Cahaya itulah yang hendak dinyalakan kembali dari tanah Melayu.

Dari Riau untuk Indonesia. Dari nilai Melayu-Islam untuk masa depan peradaban. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *