Babinsa dan Warga Tenayan Raya Kepung Titik Rawan Karhutla, Api Tak Diberi Ruang
Pekanbaru,saturealita.com/-Semangat memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tidak hanya diwujudkan melalui upacara dan berbagai kegiatan perayaan. Di wilayah Kecamatan Tenayan Raya, semangat menjaga negeri juga ditunjukkan melalui langkah nyata menjaga lingkungan dari ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
Pada Senin, 17 Agustus 2026 sekitar pukul 10.00 WIB, Babinsa Koramil 07/Tenayan Raya, Kodim 0301/Pekanbaru, Serka Susanto, bersama warga Tenayan Raya melaksanakan patroli sekaligus sosialisasi pencegahan Karhutla di sejumlah wilayah yang dinilai memiliki potensi rawan terbakar.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya pencegahan dini terhadap ancaman Karhutla, khususnya pada kawasan yang memiliki lahan terbuka dan berpotensi mengalami kebakaran apabila tidak diawasi secara bersama-sama.
Patroli dilakukan dengan menyusuri sejumlah jalur di wilayah Kecamatan Tenayan Raya. Rute pertama berada di Jalan 70, Kelurahan Tuah Negeri, Kecamatan Tenayan Raya, Pekanbaru, kemudian dilanjutkan menuju kawasan Jalan Melebung, Kecamatan Tenayan Raya.
Pergerakan personel di lapangan bukan sekadar kegiatan pemantauan. Di tengah patroli, masyarakat juga diberikan sosialisasi mengenai pentingnya menjaga lingkungan dan meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan munculnya titik api.
Pesan utama yang disampaikan adalah bahwa pencegahan Karhutla harus dimulai sebelum api muncul. Masyarakat diajak untuk tidak melakukan pembakaran lahan sembarangan serta segera melaporkan apabila menemukan indikasi asap, titik api maupun aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.
Langkah tersebut menjadi penting karena Karhutla bukan hanya persoalan terbakarnya vegetasi atau lahan. Ketika kebakaran meluas, dampaknya dapat merembet pada kualitas udara, kesehatan masyarakat, aktivitas ekonomi, transportasi, hingga kelestarian lingkungan.
Dalam patroli kali ini, pemantauan juga dilakukan terhadap titik koordinat Latitude 0.484896° dan Longitude 101.539533° yang menjadi salah satu lokasi perhatian dalam pemantauan Karhutla.
Hasil pemantauan lapangan menunjukkan kondisi relatif aman. Hotspot nihil, titik api nihil, dan titik asap juga nihil. Tidak ditemukan indikasi kebakaran pada lokasi yang menjadi sasaran pemantauan.
Kondisi tersebut menjadi kabar positif sekaligus pengingat bahwa kewaspadaan tidak boleh dihentikan hanya karena belum ditemukan titik api. Justru, situasi aman harus dipertahankan melalui patroli rutin, komunikasi dengan masyarakat dan pengawasan bersama.
Dalam kegiatan tersebut, unsur yang terlibat terdiri dari satu personel TNI dan satu personel Masyarakat Peduli Api (MPA). Keduanya bersinergi melakukan pemantauan wilayah dengan menggunakan satu unit sepeda motor sebagai sarana pendukung patroli.
Keterlibatan masyarakat melalui unsur MPA menjadi salah satu bagian penting dalam sistem pencegahan Karhutla. Masyarakat yang berada paling dekat dengan wilayah rawan memiliki peran strategis sebagai mata dan telinga dalam mendeteksi potensi kebakaran sejak dini.
Kehadiran Babinsa di tengah masyarakat juga memperlihatkan bahwa upaya menjaga keamanan dan ketertiban wilayah tidak hanya berkaitan dengan aspek pertahanan, tetapi juga mencakup kepedulian terhadap lingkungan dan keselamatan masyarakat.
Terlebih, patroli tersebut dilaksanakan bertepatan dengan momentum 17 Agustus, ketika seluruh bangsa Indonesia memperingati hari kemerdekaan. Semangat kemerdekaan dalam konteks tersebut diterjemahkan melalui kepedulian terhadap lingkungan dan komitmen menjaga wilayah agar tetap aman, sehat dan nyaman bagi masyarakat.
Pencegahan Karhutla memang membutuhkan kerja bersama. Aparat tidak mungkin bekerja sendiri tanpa dukungan masyarakat. Begitu pula masyarakat membutuhkan koordinasi dan pendampingan agar setiap potensi ancaman dapat ditangani secara cepat dan tepat.
Karena itu, sosialisasi menjadi bagian yang tidak kalah penting dibandingkan patroli. Membangun kesadaran masyarakat merupakan investasi jangka panjang untuk menekan kemungkinan terjadinya kebakaran.
Patroli yang dilakukan Serka Susanto bersama warga Tenayan Raya tersebut sekaligus menunjukkan bahwa deteksi dini merupakan langkah paling efektif dalam menghadapi ancaman Karhutla. Sebelum api membesar dan menimbulkan kerugian, setiap potensi harus terlebih dahulu diantisipasi.
Dengan hasil pemantauan tanpa hotspot, tanpa titik api dan tanpa titik asap, kegiatan patroli berlangsung dalam situasi tertib, aman dan lancar.
Namun, kondisi nihil titik api tersebut bukan alasan untuk menurunkan kewaspadaan. Sebaliknya, keadaan aman harus terus dijaga dengan meningkatkan kepedulian masyarakat, memperkuat koordinasi dan melaksanakan pemantauan secara berkelanjutan.
Dari Tenayan Raya, pesan sederhana kembali ditegaskan: mencegah api jauh lebih baik daripada memadamkan kebakaran yang sudah meluas.
Semangat menjaga Indonesia pada momentum kemerdekaan pun tidak berhenti pada pengibaran Sang Merah Putih. Ia juga hadir dalam langkah-langkah kecil menjaga tanah, udara dan lingkungan agar tetap menjadi ruang hidup yang aman bagi generasi mendatang.
Patroli Karhutla di Tenayan Raya menjadi gambaran bahwa kemerdekaan juga membutuhkan kepedulian. Ketika aparat dan masyarakat bergerak bersama sebelum api menyala, sesungguhnya mereka sedang menjaga bukan hanya lahan, tetapi juga masa depan.***






