Tambang Pasir Sialang Rampai, Wadah Lapangan Kerja Masyarakat Tempatan, Berikut Penjelasannya

oleh -419 views
Ket foto : Tampak dari depan Ketua RW 07 Sialang Rampai, Zainudin sebela kiri dan sebelah Kanan Ketua RT Sunardi, posisi ditengah Ketua Pemuda Sihur (f.saturealita.com)

PEKANBARU (Saturealita.com)-Tambang pasir berlokasi Kelurahan Sialang Rampai Kecamatan Kulim, satu tempat lapangan kerja bagi masyarakat itu sendiri.

Pasalnya, tambang pasir yang diketahuai berada di kota Pekanbaru Provinsi Riau ini, sejak beroperasi hingga sekarang, telah membuka dan menciptakan lapangan khusus untuk warga tempatan yang tidak ada pengalaman kerja maupun pendidikan tinggi.

ironisnya, tambang pasir yang hanya menggunakan mesin dompeng dan menghandalkan kekuatan dan keahlian tenaga manusia, kian hari selalu saja dijadikan objek masalah bagi oknum tertentu yang hanya untuk kepentingan pribadi semata maupun kelompok.

Tidak perlu disebutkan siapa saja oknum tersebut yang ikut andil dalam gerakan itu. Bahkan dikabarkan, hari ini, Juma’at (8/12/2023) ada sekelompok mahasiswa akan melaksanakan aksi damai di Makapolda Riau dengan landasan yang hanya diduga dan menduga tentang apa yang sudah dilakukan di tambang pasir tersebut.

Hal ini, saat dikonfirmasikan Ketua RW 07 Zainuddin didampingi Ketua RT 02, Sunardi dan Ketua Pemuda, Sihur kelurahan Sialang Rampai kecamatan Kulim Pekanbaru, Kamis malam, (7/12/2023) saat diwawancarai tim media ini, dengan lantang berkata, sangat mengesalkan perbuatan oknum atas azas manfaat kepentingan pribadi maupun mengatas namakan kelompok atau instansi.

“Saya katakan, warga disini saja sangat mendukung adanya tambang pasir ini, selain jadi sumber mata pencaharian, kami merasa terbantu, karena kesejahteraan masyarakat tempatan tumbuh dan berkembang melalui bantuan sosial (bansos) para pemilik tambang yang ada diwilayah dan lingkungan tersebut”, kata pria asli berdarah Madura Jawa Timur ini.

Ditegaskan Zainuddin, coba dibayangkan serta direnungkan, kegiatan tambang pasir bukanlah melakukan perkerjaan liar yang menyerobot lahan orang atau segala macamnya, eh, malah menjadi azas manfaat mencari keuntungan oknum tertentu.

Kemudian azas manfaat positif adanya tambang pasir diwilayah ini, segala bentuk bantuan pemilik dan pengelola tambang selalu mendahulukan warga yang kurang mampu dan fasilitas sarana dan prasarana terus berjalan.

“Saya katakan, tidak sampai disitu saja, melainkan berbagai sektor instansi yang ada diwilayah ini, kerap mendapat bantuan berupa material dalam pembangunan dan sepanjang jalan sedikit banyaknya ada hasil sumbangsih secara kebersamaan para pemilik atau pengelola tambang”, bebernya sembari menambahkan, khusus buat pembangunan Masjid sebagai sarana ibadah menjadi prioritas yang tidak boleh diabaikan.

Perlu dicatat dan disaksikan bersama khusus perangkat RW dan RT tidak ada mengambil keuntungan disini, bahkan ikut turun tangan sebagai pekerja tambang dan rela berpanas terkelupak kulit, hujan terasa pedih dan letih untuk menghantar istirahat bagaikan tulang patah dan remuk demi untuk menafkahi keluarga. “Kami bukan cari kaya, hanya semata-mata menyambung hidup dan berupaya untuk biaya kelancaran pendidikan anak, agar pintar dan tidak seperti orang tua sebagai kuli muat pasir ini”, ungkap dengan kegeraman batin terhunus.

Pesan yang sangat sejawat untuk bersama dan untuk menghilangkan bayang yang seolah-olah menjadi momok negatif untuk berfikir pendek, maka dari itu, mohon pencelahan dan wejangan pemerintah untuk memberikan kemudahan legalitas pengelolaan tambang pasir berupa dengan mengantongi izin secara resmi.

“Kami siap apapun syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi, asal tambang ini, tidak tutup karena pintu lapangan kerja dan mengurangi pengangguran serta tindakan kriminalitas  kampung”, tutupnya. (fredy/*)

saturealita