Pencurian Hasil Panen dan Risiko Karhutla
PEKANBARU,saturealta.com-Di balik hamparan kebun sayur yang menjadi sumber penghidupan warga Kelurahan Tangkerang Timur, Kecamatan Tenayan Raya, tersimpan dua persoalan yang terus membayangi para petani, yakni maraknya ancaman pencurian hasil panen dan tingginya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) saat musim kemarau.
Persoalan tersebut menjadi perhatian Babinsa Kelurahan Tangkerang Timur, Peltu Afrianto dari Koramil 07/Tenayan Raya, Kodim 0301/Pekanbaru, ketika melaksanakan komunikasi sosial (Komsos) di kebun milik Purba di Jalan Singgalang 8, RT 01/RW 04, Selasa (7/7/2026) pukul 11.30 WIB.
Kegiatan yang dihadiri Purba selaku petani sayuran dan Soni tersebut tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi. Di lapangan, Babinsa menggali langsung kondisi yang dihadapi petani sekaligus memetakan potensi gangguan keamanan dan keselamatan lingkungan yang dapat mengancam keberlangsungan sektor pertanian.
Salah satu persoalan yang menjadi sorotan adalah kerawanan pencurian hasil kebun pada malam hari. Bagi petani, kehilangan hasil panen bukan hanya kerugian materi, tetapi juga dapat mengganggu keberlanjutan usaha yang selama ini menjadi penopang ekonomi keluarga.
Karena itu, Babinsa mengimbau warga meningkatkan kewaspadaan, memperkuat pengawasan lingkungan, serta membangun komunikasi antarsesama petani agar setiap potensi gangguan dapat segera diantisipasi.
Selain persoalan keamanan, ancaman lain yang dinilai tidak kalah serius adalah potensi karhutla.
Cuaca panas dan lahan yang mulai mengering menjadi kombinasi yang dapat memicu kebakaran apabila masyarakat masih menggunakan cara pembakaran untuk membersihkan lahan.
Dalam dialog tersebut, Peltu Afrianto menegaskan bahwa membuka lahan dengan cara membakar bukan lagi pilihan yang dapat ditoleransi.
Dampaknya tidak hanya merusak lahan pertanian, tetapi juga berpotensi memicu kebakaran yang meluas, mencemari udara, mengganggu kesehatan masyarakat, hingga menimbulkan kerugian ekonomi yang jauh lebih besar.
Pendekatan yang dilakukan Babinsa menunjukkan bahwa pembinaan teritorial tidak berhenti pada aspek pertahanan semata. Kehadiran aparat di tengah petani menjadi bagian dari upaya deteksi dini terhadap persoalan yang berkembang di tingkat akar rumput, mulai dari keamanan lingkungan hingga ancaman bencana yang dapat memengaruhi stabilitas wilayah.
Komunikasi sosial seperti ini juga menjadi sarana menyerap aspirasi masyarakat secara langsung.
Informasi yang diperoleh dari lapangan menjadi dasar bagi aparat kewilayahan dalam menyusun langkah-langkah pencegahan sehingga berbagai persoalan dapat ditangani sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih besar.
Kegiatan berakhir sekitar pukul 12.00 WIB dalam keadaan aman dan tertib. Meski berlangsung sederhana, pertemuan tersebut memperlihatkan bahwa menjaga ketahanan pangan tidak hanya bergantung pada keberhasilan menanam dan memanen, tetapi juga pada kemampuan seluruh elemen masyarakat menjaga keamanan hasil pertanian serta mencegah kebakaran lahan sejak dini. ***











