Babinsa dan Warga Sisir Lahan Bekas Terbakar di Industri Tenayan
Pekanbaru,saturealita.com/-Upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kecamatan Tenayan Raya, Kota Pekanbaru, terus dilakukan. Senin, 24 Agustus 2026 sekitar pukul 11.00 WIB, Babinsa Koramil 07/Tenayan Raya, Sertu S. Hermanto, bersama warga melaksanakan patroli dan pemantauan terhadap sejumlah lahan yang sebelumnya mengalami kebakaran di Kelurahan Industri Tenayan.
Patroli tersebut menyasar lahan milik Pemerintah Kota Pekanbaru serta lahan milik warga yang disebut sebagai lahan Pak Azar. Kedua lokasi tersebut menjadi perhatian setelah sebelumnya dilaporkan mengalami kebakaran dengan luasan yang diperkirakan mencapai sekitar lima hektare pada salah satu area dan dua hektare pada area lainnya. Pemantauan dilakukan sebagai langkah antisipasi agar bara maupun potensi titik api yang mungkin masih tersisa tidak kembali berkembang menjadi kebakaran baru.
Kegiatan patroli sekaligus dirangkai dengan sosialisasi pencegahan karhutla kepada masyarakat. Langkah ini dinilai penting mengingat kawasan yang pernah terbakar memiliki tingkat kerawanan tersendiri, terutama apabila kondisi lahan kembali kering dan terdapat sumber api. Masyarakat di sekitar lokasi diingatkan agar tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran serta segera melaporkan apabila menemukan asap atau tanda-tanda munculnya api.
Rute patroli dilakukan di sejumlah titik yang dinilai perlu mendapat perhatian. Personel menyisir kawasan Jalan Tenayan Jaya ujung, Kelurahan Industri Tenayan, Kecamatan Tenayan Raya, kemudian dilanjutkan menuju kawasan Jalan 45/Gajah Mada, Kelurahan Industri Tenayan. Pemantauan tersebut menjadi bagian dari upaya mempersempit potensi munculnya kembali kebakaran di kawasan yang sebelumnya telah terdampak.
Dalam kegiatan pemantauan, lokasi karhutla tercatat berada pada koordinat sekitar 0.555828° Lintang Selatan dan 101.572742° Bujur Timur. Berdasarkan hasil pemantauan di lapangan, kondisi saat patroli berlangsung relatif terkendali. Tidak ditemukan hotspot, tidak terdapat titik api, dan tidak ditemukan titik asap di lokasi yang menjadi sasaran patroli.
Meski demikian, nihilnya titik api dan asap bukan berarti kewaspadaan dapat diturunkan. Lahan yang pernah terbakar tetap membutuhkan pengawasan karena kondisi tertentu dapat memunculkan kembali bara atau api, terutama ketika terdapat material kering yang mudah terbakar. Karena itu, patroli lapangan dan komunikasi dengan masyarakat menjadi salah satu mata rantai penting dalam mencegah karhutla sejak dini.
Dalam kegiatan tersebut, unsur yang terlibat terdiri dari satu personel TNI dan satu personel Masyarakat Peduli Api (MPA). Kegiatan patroli menggunakan satu unit sepeda motor sebagai sarana mobilitas untuk menyusuri sejumlah kawasan yang menjadi sasaran pemantauan.
Kehadiran Babinsa bersama masyarakat juga memperlihatkan bahwa pencegahan karhutla tidak hanya bergantung pada penanganan ketika api sudah membesar. Deteksi dini, patroli rutin, kepedulian masyarakat dan respons cepat menjadi bagian penting agar kebakaran tidak kembali meluas serta menimbulkan dampak terhadap lingkungan dan aktivitas masyarakat.
Kegiatan patroli dan sosialisasi tersebut berlangsung dalam keadaan tertib, aman dan lancar. Kondisi nihil hotspot, titik api maupun titik asap menjadi kabar positif dari hasil pemantauan hari itu. Namun, kewaspadaan tetap harus dipertahankan mengingat kawasan lahan terbuka dan bekas terbakar masih memiliki potensi kerawanan.
Karhutla bukan sekadar persoalan api yang terlihat di permukaan. Ketika lahan terbakar, dampaknya dapat merembet pada kualitas udara, lingkungan, kesehatan masyarakat hingga aktivitas ekonomi. Karena itu, setiap upaya pencegahan di tingkat kelurahan dan kawasan rawan memiliki arti penting dalam menjaga Pekanbaru agar tidak kembali menghadapi persoalan kabut asap.
Patroli yang dilakukan Koramil 07/Tenayan Raya bersama warga diharapkan menjadi pengingat bahwa pencegahan harus dilakukan sebelum api kembali menyala. Satu titik api yang berhasil dicegah hari ini dapat berarti terhindarnya kerugian yang jauh lebih besar pada hari berikutnya.***






