Gubri Memperkuat Dukungan DIR, Berkonsep “Tali Berpilin Tiga”

Riau0 Dilihat

PEKANBARU,Saturealita.com-Secara simbolis dengan berfoto memegang plakat “Dukung Daerah Istimewa Riau” di Gerai Ekonomi Kreatif Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Provinsi Riau.Gubernur Riau, Datuk Seri Setia Amanah Abdul Wahid, semakin memperteguhkan dukungannya.

Hal ini, dilakukan saat kunjungan ke pameran pembangunan dalam rangka Hari Jadi ke-68 Provinsi Riau, Gubernur Wahid menyatakan bahwa Daerah Istimewa Riau harus didukung. “Daerah Istimewa Riau ini harus kita dukung,” kata Gubernur Wahid, sebagaimana disampaikan dikutip pernyataan dari Bendahara LAMR Provinsi Riau, Datuk M. Fadli.

Ketua Badan Pekerja Perwujudan Daerah Istimewa Riau (BPP DIR), Datuk Seri Taufik Ikram Jamil, menyatakan bahwa Gubernur Wahid telah mendukung gagasan ini sejak awal. “Tindakan simbolik berfoto dengan memegang plakat saya melihat semakin menguatkan semangat masyarakat dalam mendorong pengakuan resmi terhadap kekhasan budaya dan sejarah Riau,” ucap Datuk Seri Taufik juga Ketum DPH LAMR.

Gagasan pembentukan DIR, kini telah memasuki tahap penyusunan naskah akademis. Rapat-rapat terpumpun telah dilakukan dan sesuai rencana, dokumen akan diserahkan ke pemerintah pusat pada bulan Oktober mendatang.

Menurut Ketua Tim Perumus Naskah Akademis DIR Provinsi, Prof. Dr. Junaidi, dasar pengusulan status keistimewaan bagi Riau bersumber pada kekayaan budaya Melayu. “Riau sebagai pusat kebudayaan Melayu harus kita bangkitkan kembali. Ini menjadi latar belakang dari perjuangan DIR,” kata Junaidi.

Junaidi juga menjelaskan bahwa kebudayaan Melayu memiliki implikasi terhadap sistem ekonomi pemerintahan. Sementara secara filosofis, pengusulan DIR berlandaskan pada Pancasila dan UUD 1945. “Pengajuan DIR tidak bertentangan dengan hukum, ini diperbolehkan negara dan bukan bentuk makar,” tegas Junaidi secara hukum dan UUD yang berlaku.

Lebih lanjut, Junaidi menekankan bahwa sistem pemerintahan dalam budaya Melayu dikenal dengan konsep “tali berpilin tiga”, yakni kolaborasi antara pemerintah, ulama, dan tokoh adat. “Berbeda dengan Aceh berbasis syariah, Riau memiliki keunikan melalui sistem tali berpilin tiga,” ujar Junaidi.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *