Seni Budaya Menjadi Napas Persatuan Pada HUT RI ke-81
Pekanbaru, saturealita.com/-Semangat kemerdekaan tidak hanya berkibar melalui Merah Putih yang menghiasi ruang-ruang publik, tetapi juga hidup melalui seni, budaya, dan kebersamaan masyarakat. Semangat itulah yang terasa dalam perhelatan seni dan budaya Jawa yang digelar bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT-RI) ke-81, Senin pagi (17/8/2026).
Sebanyak 22 paguyuban Jawa yang berada di Provinsi Riau hadir memenuhi undangan Dewan Kesenian Laboratorium Budaya Anak Negeri Riau. Mereka berkumpul di kawasan Taman Rekreasi Alam Mayang, Pekanbaru, dalam sebuah agenda yang bukan sekadar pertunjukan kesenian, tetapi juga menjadi ruang silaturahmi, memperkuat persaudaraan serta meneguhkan komitmen menjaga warisan budaya di tengah perkembangan zaman.
Suasana perhelatan semakin semarak dengan hadirnya berbagai pertunjukan seni dan budaya Jawa. Beragam ekspresi kebudayaan ditampilkan sebagai bagian dari kekayaan Indonesia yang terus tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat Riau.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Anggota DPRD Riau Ayat Cahyadi, Ketua PKNS sekaligus Owner Alam Mayang Riyono Gede Trisoko, para ketua paguyuban, tokoh masyarakat, pegiat seni budaya serta masyarakat umum.
Kehadiran para tokoh dan masyarakat dari berbagai latar belakang memperlihatkan bahwa kebudayaan memiliki kekuatan besar dalam mempertemukan banyak orang. Perbedaan asal-usul, organisasi maupun latar belakang sosial justru dapat menjadi kekuatan ketika dipertemukan dalam semangat persatuan.
Ketua Pelaksana kegiatan, Herry Sugiharyono, didampingi Sekretaris Singgih Supriyadi, mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya membangun persatuan dan kesatuan anak bangsa, khususnya masyarakat Jawa yang tergabung dalam berbagai paguyuban di Provinsi Riau.
Menurut Herry, kegiatan tersebut pada dasarnya merupakan agenda internal bagi seluruh paguyuban Jawa yang berdomisili di Riau. Namun, nilai yang dibawa jauh lebih luas karena menyangkut upaya merawat persaudaraan sekaligus mempertahankan seni dan kebudayaan agar tidak terputus oleh perubahan zaman.
“Acara ini sebenarnya internal untuk seluruh paguyuban Jawa yang berdomisili di Riau. Intinya melalui kegiatan ini kita tetap bersatu dalam menjaga persatuan dan kesatuan serta mempertahankan nilai seni kebudayaan untuk diwariskan kepada anak cucu nantinya,” ujar Herry dalam siaran persnya.
Pernyataan tersebut menjadi pesan penting di tengah tantangan pelestarian budaya pada era modern. Kebudayaan tidak cukup hanya dikenang melalui cerita masa lalu, tetapi harus terus dipraktikkan, diperkenalkan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Momentum HUT RI ke-81 dinilai menjadi waktu yang tepat untuk kembali mengingat bahwa kemerdekaan Indonesia dibangun dari keberagaman. Berbagai suku, budaya, bahasa dan tradisi hidup berdampingan dalam satu identitas kebangsaan, yakni Indonesia.
Dalam konteks tersebut, keberadaan paguyuban bukan semata-mata sebagai wadah berkumpul berdasarkan latar budaya. Paguyuban juga dapat menjadi ruang untuk memperkuat gotong royong, membangun komunikasi sosial dan menjaga nilai-nilai luhur yang menjadi bagian dari identitas masyarakat.
Perhelatan di Alam Mayang pun tidak hanya menghadirkan hiburan. Di balik panggung seni dan budaya, tersimpan pesan mengenai pentingnya regenerasi. Seni tradisional akan terus memiliki masa depan apabila generasi muda diberi ruang untuk mengenal, mempelajari dan kemudian mengembangkannya tanpa kehilangan akar budayanya.
Sementara itu, Anggota DPRD Riau Ayat Cahyadi memberikan apresiasi terhadap terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menilai ruang dialog antara pemerintah, wakil rakyat dan para pegiat seni budaya perlu terus dibuka agar berbagai persoalan maupun perkembangan kebudayaan dapat dikomunikasikan secara baik.
Para seniman dan pelaku seni budaya, menurutnya, memiliki ruang untuk menyampaikan aspirasi, gagasan maupun berbagai persoalan yang mereka hadapi dalam mengembangkan kesenian.
“Kita buka pintu lebar-lebar bagi para seniman seni budaya Jawa Riau untuk beraudiensi menyampaikan apresiasinya terhadap perkembangan dan keluhannya,” ungkap Ayat Cahyadi.
Pesan tersebut sekaligus membuka peluang agar kegiatan seni budaya tidak berhenti sebagai agenda seremonial. Ke depan, seni dan kebudayaan diharapkan dapat memperoleh perhatian yang lebih luas, termasuk dalam hal pengembangan sumber daya manusia, ruang pertunjukan, regenerasi seniman serta penguatan ekosistem kebudayaan.
Bagi masyarakat Jawa di Riau, keberadaan 22 paguyuban dalam satu momentum menjadi gambaran bahwa keberagaman organisasi tidak harus melahirkan perbedaan. Sebaliknya, keberagaman tersebut dapat menjadi energi kolektif untuk membangun persatuan.
Semangat itu menjadi semakin bermakna karena kegiatan dilaksanakan bertepatan dengan peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-81. Jika kemerdekaan dahulu diperjuangkan dengan keberanian para pendahulu, maka generasi hari ini memiliki tanggung jawab berbeda, yakni menjaga persatuan, merawat kebudayaan dan memastikan identitas bangsa tetap hidup di tengah arus perubahan.
Dari Alam Mayang, semangat tersebut menemukan panggungnya. Seni menjadi bahasa persaudaraan, budaya menjadi jembatan antargenerasi dan paguyuban menjadi ruang untuk memperkuat kebersamaan.
Perhelatan seni dan budaya Jawa tersebut akhirnya tidak hanya meninggalkan kesan kemeriahan sebuah pertunjukan. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menghadirkan pesan bahwa merawat budaya berarti merawat jati diri, sedangkan menjaga persatuan berarti menjaga Indonesia tetap berdiri kokoh di tengah keberagaman.
Di usia kemerdekaan yang memasuki 81 tahun, semangat itu menjadi pengingat bahwa Indonesia bukan hanya dibangun oleh sejarah, tetapi juga oleh masyarakat yang hari ini bersedia menjaga warisan leluhur dan meneruskannya kepada generasi masa depan.***




