Ketoprak, Pernikahan, dan Persatuan

Budaya0 Dilihat
Dua Tokoh Riau Menangkap Pesan Budaya di Balik Pesta Diajeng–Prasetyo

Pekanbaru, saturealita.com/-Perhelatan pesta pernikahan putri Drs. Riyono Gede Trisoko, Diajeng Gathalia Dewi, S.AK, dengan Muhammad Prasetyo Wahyu Jati, S.I.A, berlangsung dalam suasana hangat, meriah, namun tetap sederhana. Tidak sekadar menjadi momentum sakral bagi kedua mempelai dan keluarga besar, pesta tersebut juga menghadirkan nuansa kebudayaan yang memberikan warna tersendiri bagi para tamu undangan.

Di tengah suasana penuh kebahagiaan tersebut, hadir dua tokoh masyarakat Riau yang memiliki perhatian kuat terhadap kehidupan sosial dan kebudayaan, yakni Datuk Seri H. R. Marjohan Yusuf, selaku Ketua Majelis Kerapatan Adat (MKA), serta seniman Riau dan Imam Panggung Toktan, Aris Abeba. Kehadiran keduanya bukan hanya menjadi bagian dari undangan, tetapi turut menyaksikan bagaimana sebuah pesta keluarga dapat berubah menjadi ruang perjumpaan berbagai latar budaya.

Pemandangan menarik terlihat ketika seni budaya Jawa ditampilkan dalam rangkaian perhelatan tersebut. Kesenian yang disajikan mampu menghibur tamu sekaligus menghadirkan atmosfer berbeda. Para undangan tidak hanya menikmati suasana pesta, tetapi juga memperoleh kesempatan menyaksikan ekspresi budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Bagi Datuk Seri H. R. Marjohan Yusuf, kehadiran seni budaya dalam sebuah pesta pernikahan memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar hiburan. Menurutnya, tradisi dan kesenian yang ditampilkan dalam momentum keluarga merupakan salah satu bentuk nyata bagaimana masyarakat menjaga identitas budaya di tengah perubahan zaman.

“Saya menilai, perhelatan pernikahan menjadi hal penting, di mana nilai budaya yang ditampilkan merupakan ajang pelestarian yang harus dijaga hingga ke anak cucu,” ungkapnya, Selasa (25/8/2026), saat menghadiri pesta pernikahan tersebut.

Ia menilai keberagaman budaya yang hadir dalam sebuah acara masyarakat justru dapat menjadi kekuatan untuk mempererat hubungan antar kelompok. Tradisi tidak harus menjadi sekat yang memisahkan masyarakat berdasarkan latar belakang, tetapi dapat menjadi jembatan yang mempertemukan banyak orang dalam suasana kebersamaan.

Nuansa tersebut semakin terasa ketika para tokoh dan tamu dari berbagai latar belakang terlihat membaur. Keakraban antara tokoh penguyuban Jawa dengan masyarakat dari berbagai suku lainnya menciptakan suasana yang cair. Perbedaan asal-usul dan latar budaya seolah melebur dalam satu ruang kebersamaan, yakni merayakan kebahagiaan kedua mempelai.

Fenomena tersebut menjadi gambaran bahwa kehidupan masyarakat Riau memiliki kekayaan sosial yang tidak sederhana. Riau bukan hanya dikenal dengan akar budaya Melayu, tetapi juga menjadi rumah bagi berbagai komunitas yang membawa tradisi, bahasa, kesenian, serta nilai-nilai leluhur masing-masing.

Di tempat yang sama, Imam Panggung Toktan Aris Abeba juga memberikan pandangan dari perspektif seorang seniman. Baginya, penampilan seni budaya ketoprak menjadi salah satu bagian yang menarik perhatian. Sajian tersebut terasa semakin istimewa karena dipadukan dengan konsep pesta taman dan suasana alam terbuka.

“Saya sudah lama bermukim di tanah Jawa, sehingga sudah terbiasa dan sekian lama hilang, kini dapat dinikmati,” ujarnya.

Bagi Aris Abeba, pertunjukan seni bukan sekadar tontonan. Ada ingatan, pengalaman, dan perjalanan kebudayaan yang ikut hadir melalui setiap pementasan. Ketoprak, dalam pandangannya, membawa kembali suasana yang pernah akrab dalam perjalanan hidupnya ketika berada di tanah Jawa.

Pesta pernikahan Diajeng Gathalia Dewi dan Muhammad Prasetyo Wahyu Jati akhirnya tidak hanya meninggalkan kesan tentang sebuah perayaan keluarga. Lebih dari itu, momentum tersebut memperlihatkan bagaimana seni dan budaya dapat hadir secara alami di tengah kehidupan masyarakat.

Ketika kesenian Jawa tampil di tengah masyarakat Riau, yang muncul bukanlah pertentangan identitas, melainkan perjumpaan budaya. Masing-masing tradisi mendapatkan ruang untuk dikenal, dihargai, dan dinikmati bersama.

Pesan penting dari perhelatan tersebut pun menjadi semakin jelas: kebudayaan akan tetap hidup apabila masyarakat memberikan ruang bagi generasi berikutnya untuk mengenal dan menikmatinya. Pelestarian tidak selalu harus dilakukan melalui acara besar. Sebuah pesta keluarga pun dapat menjadi panggung sederhana untuk menjaga warisan leluhur.

Pada akhirnya, kebahagiaan dua insan yang dipersatukan dalam pernikahan turut menjadi momentum yang mempertemukan banyak hati dan budaya. Dari suasana pesta yang sederhana, lahir sebuah gambaran tentang Riau sebagai ruang perjumpaan berbagai tradisi tempat keberagaman bukan untuk dipertentangkan, melainkan dirayakan sebagai kekayaan bersama.

Pernikahan menjadi awal perjalanan bagi kedua mempelai, sementara kebudayaan yang hadir di dalamnya menjadi pesan bahwa warisan leluhur akan tetap bernyawa selama masih ada masyarakat yang bersedia merawat, menampilkan, dan mewariskannya kepada anak cucu. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *